Pemerintah Luncurkan Mandatori B50 Mulai 1 Juli 2026
Pemerintah Indonesia bersiap meluncurkan mandatori biodiesel B50 pada 1 Juli 2026 sebagai langkah strategis menuju swasembada energi nasional dan menekan angka impor bahan bakar solar.
Kebijakan penambahan kandungan fatty acid methyl ester (FAME) sebesar 50 persen ini diproyeksikan memicu kenaikan biaya pemeliharaan alat berat pertambangan, dilansir dari Bloomberg Technoz. Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mengestimasikan lonjakan biaya perawatan berkisar antara 5 hingga 10 persen akibat sifat higroskopis dan karakteristik pelarut kuat dari komponen FAME tersebut.
Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy Hartono menjelaskan bahwa transisi bahan bakar sebelumnya telah memberikan dampak nyata pada pengeluaran operasional sektor pertambangan.
“Kalau dilihat yang kemarin [transisi B35 ke B40], maka pada transisi dari B40 menjadi B50, diduga juga akan terjadi peningkatan pembiayaan untuk pemeliharaan dan perbaikan di kisaran 5% sampai dengan 10% lagi,” ungkap Sudirman saat dihubungi, Kamis (25/6/2026).
Sudirman menambahkan bahwa peningkatan kandungan FAME berpotensi mempercepat kerusakan komponen mesin seperti injektor dan penyumbatan filter karena sifatnya yang mudah menyerap kelembaban udara serta melepaskan endapan kotoran di tangki bahan bakar.
“Produsen alat berat global dari China, Korea Selatan, Jepang, Jerman, hingga Amerika Serikat umumnya tidak memberikan garansi apabila peralatan dioperasikan menggunakan bahan bakar di luar spesifikasi yang direkomendasikan,” ungkapnya.
Sektor usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga mengkhawatirkan beban tambahan ini mengingat porsi biaya bahan bakar mencapai 25 hingga 35 persen dari total operasional.
“B40 sudah memberatkan, jadi kalau ditambah ke B50 tentu lebih berat lagi beban biayanya. Apalagi, harga bahan bakar naik dan biaya bahan bakar di perusahaan tambang itu besar, bisa 25%—35% dari total biaya operasional,” kata Hendra ketika dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Selain itu, Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo) memprediksi konsumsi bahan bakar akan menjadi lebih boros sekitar 7 hingga 10 persen dengan menggunakan B50 dibanding B40.
“Cost dari fuel yang tadinya sekitar 35% mungkin akan jadi 40%, [bahkan] karena harga BBM [industri] meroket di atas Rp20.000, mungkin cost BBM diatas 50%,” kata Bambang ketika dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Di tengah kekhawatiran pelaku industri, Presiden Prabowo Subianto menegaskan tekad pemerintah untuk tetap mengimplementasikan kebijakan pemanfaatan minyak kelapa sawit tersebut demi kedaulatan energi dalam negeri.
“Bulan Juli ini, beberapa hari lagi kita akan launching B50, B50 solar akan kita olah dari kelapa sawit 50%. Dengan demikian kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri, saudara-saudara,” ungkap Prabowo dalam pidatonya di acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).
Presiden optimistis target pemenuhan kebutuhan energi secara mandiri dapat tercapai sepenuhnya dalam beberapa tahun ke depan.
“Saya perkirakan 3 tahun lagi, maksimal 4 tahun lagi kita akan swasembada energi. Kita tidak akan impor apapun untuk BBM, untuk energi kita saudara-saudara,” tegasnya.