Kementan Periksa 274 Perusahaan Sawit Terkait Penurunan Harga TBS
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan pemeriksaan terhadap 274 perusahaan kelapa sawit yang dinilai belum menyesuaikan harga pembelian tandan buah segar (TBS) tingkat petani dengan harga pasar global, dilansir dari Detik Finance. Langkah tegas ini diambil menyusul adanya ketidaksesuaian situasi pasar, di mana harga TBS di tingkat petani sempat anjlok di tengah lonjakan harga minyak sawit mentah (CPO) dunia serta penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah. Kementerian Pertanian merespons cepat kondisi tersebut melalui serangkaian pertemuan dengan pelaku usaha, asosiasi, hingga perwakilan petani sebelum akhirnya menggandeng Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk melakukan tindakan pemeriksaan.
Laporan penanganan masalah ini disampaikan langsung oleh Amran kepada Presiden Prabowo Subianto pada acara Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo pada Rabu (24/6/2026).
"Kami laporkan, Bapak Presiden, TBS alhamdulillah sekarang sudah normal kembali, bila perlu naik 10% dari sebelumnya bapak presiden," ujar Amran dalam keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Kamis (25/6/2026). Upaya pemulihan stabilitas harga terus diakselerasi karena pemerintah mengkhawatirkan kerugian di sisi hulu, mengingat ada sekitar 15 juta jiwa yang menggantungkan hidup pada sektor kelapa sawit nasional.
"Kenapa? Karena harga CPO dunia naik, dan dengan Pak Kapolri kami kerja sama ada 274 (perusahaan) yang awalnya tidak menaikkan, jadi kita melakukan pemeriksaan," jelas Amran. Selain memaparkan kondisi komoditas kelapa sawit, Amran turut membeberkan sejumlah indikator positif lain di sektor agraria selama masa pemerintahan Presiden Prabowo, termasuk pemotongan harga pupuk sekitar 20%.
Peningkatan kesejahteraan sektor pertanian diklaim mengalami lompatan besar yang ditunjukkan oleh capaian Nilai Tukar Petani (NTP) per Mei 2026 yang menyentuh angka 127, posisi tertinggi dalam kurun waktu 34 tahun terakhir.