Airlangga Hartarto Teliti Penurunan Daya Saing Indonesia di IMD World 2026
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan langkah identifikasi masalah terkait penurunan peringkat daya saing global Indonesia dalam IMD World Competitiveness 2026 di Jakarta pada Rabu (24/6/2026). Dilansir dari Bloomberg Technoz, posisi Indonesia merosot delapan peringkat dari urutan ke-40 pada tahun 2025 menjadi posisi ke-48 dari total 70 negara yang dinilai pada tahun ini. Pemerintah berencana memanfaatkan Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) untuk memetakan hambatan yang memicu penurunan daya saing tersebut.
"Ya nanti kita teliti lagi masalahnya di mana. Kan kita ada persiapan untuk tim di bottlenecking [Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP)]. Jadi kita akan lihat saja dari sana," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Sektor energi menjadi perhatian utama pemerintah karena kepastian pasokan listrik dinilai menjadi pondasi vital bagi pembangunan ekonomi nasional sekaligus penentu iklim investasi. "Ya tentu kita lihat kan sebetulnya daya saing per hari ini kan yang menjadi concern para investor itu energi," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Stabilitas pasokan listrik menopang penilaian infrastruktur utama yang krusial bagi keberlangsungan sektor manufaktur maupun transportasi di tanah air. "Tentu negara dianggap iklimnya baik kalau energi sebagai infrastruktur utama untuk apapun. Apakah itu untuk manufaktur, apakah itu untuk sektor transportasi, [itu] stabil," tutur Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Meskipun menghadapi penurunan, Indonesia dinilai masih berpeluang memperbaiki posisi berkat daya tarik investasi di sektor energi baru dan terbarukan. "Kebetulan Indonesia sedang diminati karena kita punya renewable energy," imbuh Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Laporan IMD World Competitiveness Booklet 2026 turut memaparkan sejumlah hambatan eksternal yang dihadapi Indonesia, termasuk eskalasi konfrontasi ekonomi di tingkat global.
"Konfrontasi ekonomi global mengancam keamanan energi nasional," dikutip dari laporan IMD World Competitiveness Booklet 2026.
Laporan tersebut juga menggarisbawahi tantangan lain seperti pertumbuhan ekonomi yang stagnan, penyesuaian anggaran, keterbatasan infrastruktur, kompetensi SDM, serta keterbatasan pembiayaan. Di kawasan Asia Pasifik, peringkat RI melemah dari posisi 14 menjadi posisi 11 di antara 15 negara, sementara pada kelompok negara berpenduduk di atas 20 juta jiwa, posisi Indonesia turun ke urutan 21. Berdasarkan data IMD 2025, Indonesia mencatatkan jumlah penduduk 284,44 juta jiwa, PDB US$1,45 triliun, pertumbuhan ekonomi riil 5,1%, inflasi 1,91%, pengangguran 4,85%, serta angkatan kerja 155,27 juta orang.
Faktor kinerja ekonomi menjadi kekuatan utama Indonesia dengan menempati peringkat ke-24 dunia, sedangkan efisiensi pemerintah berada di peringkat ke-50, efisiensi bisnis di peringkat ke-53, dan infrastruktur di posisi ke-42.