Studi Kaitkan Penggunaan Smartphone dengan Penurunan Angka Kelahiran
Penurunan angka kelahiran di berbagai negara dalam beberapa tahun terakhir terus menjadi sorotan. Faktor biaya hidup yang tinggi hingga perubahan gaya hidup kerap dituduh sebagai penyebab utama fenomena ini. Namun, sebuah faktor baru kini ikut muncul ke permukaan.
Dilansir dari Detik Health, penggunaan smartphone atau ponsel pintar diduga kuat turut berkontribusi terhadap penurunan angka fertilitas tersebut. Penulis dan peneliti sosial Christine Emba dalam artikel opininya di The New York Times menyoroti sejumlah riset terkait masalah ini. Salah satunya adalah penelitian yang dipublikasikan oleh National Bureau of Economic Research (NBER).
Studi NBER tersebut menganalisis penyebaran iPhone di Amerika Serikat sejak pertama kali diluncurkan pada 2007. Hasil analisis menunjukkan penggunaan smartphone diduga berkontribusi terhadap 33 hingga 52 persen penurunan angka fertilitas pada perempuan usia 15 hingga 44 tahun.
Penurunan paling signifikan ditemukan pada kelompok remaja dan dewasa muda. Kelompok yang berada pada rentang usia 15 hingga 24 tahun tersebut mencatat angka penurunan terbesar. Temuan yang sejalan juga diungkapkan oleh ekonom Nathan Hudson dan Hernan Moscoso Boedo dari University of Cincinnati. Riset mereka menunjukkan bahwa perluasan penggunaan smartphone berjalan beriringan dengan merosotnya angka kelahiran remaja secara tajam di Amerika Serikat dan Inggris.
Meskipun demikian, para peneliti memberikan catatan penting bahwa smartphone bukan satu-satunya biang kerok di balik fenomena ini. Teknologi ini lebih tepat disebut sebagai pemicu percepatan dari tren yang sudah berjalan sebelumnya. Akar persoalan yang lebih besar dinilai tetap bersumber pada faktor ekonomi, kesulitan menemukan pasangan hidup, peningkatan kecemasan sosial, hingga rasa kesepian. Menyalahkan ponsel pintar secara tunggal justru berisiko mengabaikan berbagai faktor mendasar tersebut.
Krisis Hubungan Antarmanusia
Emba menjelaskan bahwa masalah penurunan angka kelahiran ini berkaitan erat dengan berkurangnya interaksi sosial secara langsung. Kehadiran gawai canggih telah mengalihkan berbagai aktivitas tatap muka ke dalam layar digital. Fitur pesan singkat, panggilan video, media sosial, hingga hiburan digital membuat masyarakat merasa tidak perlu lagi untuk sering bertemu secara langsung.
Hal ini berdampak pada berkurangnya kesempatan untuk membangun hubungan romantis, menjalin kedekatan emosional, hingga membentuk sebuah keluarga. "Ketika cukup banyak remaja berada di ponsel, maka kehidupan sosial mereka juga berpindah ke sana. Waktu untuk bertemu langsung berkurang drastis," tulis para peneliti yang dikutip Emba.
Selain itu, platform media sosial juga dinilai memperparah rasa cemas, kesepian, serta polarisasi gender yang memengaruhi hubungan antarindividu. Bagi Emba, esensi masalah ini bukan sekadar jumlah bayi yang lahir, melainkan penurunan kualitas hubungan sosial di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, solusi yang mendesak bukan hanya memotivasi masyarakat untuk memiliki lebih banyak anak. Langkah yang lebih krusial adalah mengembalikan ruang interaksi langsung manusia yang telah tergeser oleh kehadiran teknologi. "Pertanyaan yang lebih penting adalah bagian mana dari kehidupan manusia yang tanpa sadar telah digantikan teknologi, dan bagaimana cara mengembalikannya," tulis Emba.
Jika penggunaan ponsel pintar terbukti ikut memicu krisis koneksi sosial, maka upaya membangun kembali hubungan nyata antarmanusia menjadi kunci utama. Langkah ini dinilai penting untuk menghadapi tren penurunan angka kelahiran di masa depan.