Menteri Kesehatan Mendorong Penguatan Ketahanan Kesehatan Nasional

Share

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa Indonesia wajib memperkuat ketahanan kesehatan nasional guna mengantisipasi ketergantungan pada negara lain saat terjadi pandemi di masa depan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum tingkat tinggi ASEAN di Jakarta pada Rabu (24/6/2026), sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.

Forum tersebut mempertemukan para pembuat kebijakan, regulator, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas kesiapsiagaan pandemi serta manufaktur vaksin di kawasan Asia Tenggara. Langkah ini diambil karena belajar dari pengalaman pandemi Covid-19, setiap negara cenderung menutup diri dan mengutamakan kebutuhan domestik.

"Yang pertama, kita berbicara mengenai ketahanan kesehatan di Indonesia dan ASEAN. Negara besar seperti Indonesia dengan populasi 280 jiwa harus memiliki ekosistem obat, diagnostik, dan vaksin yang kuat. Jika terjadi pandemi lagi, kita tidak bisa bergantung pada negara lain karena saat itu kebijakan lockdown pasti diterapkan," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Menurut Budi, kemandirian ini juga perlu dimiliki negara ASEAN lain seperti Vietnam, Filipina, Thailand, dan Myanmar melalui pembagian teknologi kesehatan. Selain ketahanan, penguatan sektor kesehatan lokal ini dinilai sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% yang dikejar bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan.

"Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja justru dinikmati negara lain. Karena itu, kami mendorong agar seluruh rantai produksi kesehatan dapat dilakukan di Indonesia," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Pemerintah menyoroti besarnya alokasi belanja kesehatan tahunan yang mencapai 16% pada tahun lalu, namun mayoritas masih terserap untuk produk impor. Hilirisasi industri farmasi dari bahan baku dasar dinilai menjadi solusi agar anggaran tersebut berkontribusi langsung pada pertumbuhan domestik.

"Sebagai contoh, produksi paracetamol dimulai dari benzena, lalu menjadi kumena, kemudian fenol, dan akhirnya menjadi paracetamol. Jika seluruh rantai hilirisasi ini dilakukan di Indonesia, maka belanja kesehatan yang terus meningkat dapat berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Selain obat-obatan, optimalisasi sumber daya darah melalui hilirisasi plasma darah juga menjadi fokus perhatian. Potensi populasi yang besar dapat dimanfaatkan untuk memproduksi komponen medis seperti albumin dan immunoglobulin secara mandiri demi mengurangi ketergantungan impor.

"Padahal Indonesia memiliki sumber daya darah yang sangat besar karena jumlah penduduknya yang besar. Karena itu, kita ingin membangun kemampuan produksi sendiri sehingga ketahanan kesehatan nasional semakin kuat dan kita tidak bergantung pada negara lain ketika menghadapi pandemi di masa depan," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Pertemuan tingkat tinggi ini ditutup dengan kesepakatan para peserta untuk mendalami topik pengembangan manufaktur vaksin, kolaborasi regulasi, serta pembiayaan berkelanjutan bagi keamanan kesehatan kawasan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author