Pemerintah Kucurkan Stimulus Ekonomi Semester II-2026 Sebesar Rp26,34 Triliun
Pemerintah mengumumkan pengucuran stimulus ekonomi total Rp26,34 triliun pada semester II-2026 mendatang untuk mendongkrak daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah melalui bantuan pangan, insentif transportasi, serta anggaran magang dan vokasi. Kebijakan tersebut dinilai tepat sasaran secara fungsi perlindungan sosial oleh Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz pada Rabu (24/6/2026). "Jadi, dari sisi perlindungan sosial, kebijakan ini tepat sasaran secara fungsi karena menahan beban biaya hidup saat harga pangan dan energi masih berisiko naik" kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.
Pemerintah mengalokasikan Rp17,54 triliun dari anggaran tersebut untuk melanjutkan bantuan pangan pada Juli, Agustus, dan September kepada 33,24 juta penerima, ditambah subsidi kedelai Rp2.000 per kg untuk kuota 250.000 ton.
"Jadi, dari sisi perlindungan sosial, kebijakan ini tepat sasaran secara fungsi karena menahan beban biaya hidup saat harga pangan dan energi masih berisiko naik," kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata. Namun, Josua mengingatkan bahwa efektivitas instrumen ini terbatas karena fungsinya hanya sebagai penyangga daya beli, bukan pencipta pendapatan baru yang membutuhkan ketepatan sasaran dan waktu.
"Kalau tidak, bantuan ini hanya memindahkan tekanan sementara dari rumah tangga ke APBN tanpa menyelesaikan akar masalah, yaitu harga pangan yang mudah bergejolak, distribusi yang belum efisien, dan pendapatan kelompok bawah yang belum naik secara berkelanjutan," kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata. Untuk kelompok menengah, pemerintah juga menyiapkan insentif transportasi Rp1,54 triliun yang menyasar jutaan penumpang selama masa libur sekolah serta Natal dan Tahun Baru.
"Kebijakan ini bisa membantu kelas menengah menekan biaya perjalanan, mendorong sektor pariwisata, dan menjaga belanja masyarakat, tetapi manfaatnya cenderung sementara dan lebih banyak dirasakan oleh kelompok yang memang sudah memiliki kemampuan untuk bepergian," kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata. Selain itu, pemerintah mengalokasikan anggaran magang dan vokasi sebesar Rp6,26 triliun bagi 220.000 lulusan SMA/SMK dan 50.000 korban PHK, meski evaluasi sebelumnya mencatat baru 30% peserta yang langsung mendapat tawaran kerja tetap. "Bagi lulusan S1, program ini akan efektif jika tidak hanya menjadi tempat menunggu pekerjaan, melainkan menjadi jembatan menuju pekerjaan tetap," tambah Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.
Menurut Josua, keberhasilan program magang harus diukur dari persentase penyerapan kerja dan kesesuaian keahlian, bukan sekadar pemberian uang saku.
"Tanpa ukuran seperti itu, program magang hanya akan menjadi bantuan uang saku sementara yang memperbaiki sentimen, tetapi belum memperbaiki kualitas pasar kerja," kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata. Konteks stimulus ini didorong oleh data Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 yang turun menjadi 120,9 dari bulan sebelumnya 123,0, serta penurunan indeks kondisi ekonomi saat ini dari 116,5 menjadi 112,2. "Indeks kondisi ekonomi saat ini juga turun dari 116,5 menjadi 112,2. Ini menandakan daya beli tidak jatuh, tetapi mulai lebih berhati-hati," kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.
Data tersebut diperkuat dengan perkiraan penjualan eceran Mei 2026 yang masih mengalami kontraksi tahunan sebesar 3,2%.
"Jadi, stimulus Rp26 triliun ini tepat waktu untuk menahan perlambatan konsumsi, tetapi tidak cukup besar untuk mengubah arah ekonomi secara struktural bila tidak disertai penciptaan pekerjaan dan kenaikan pendapatan," kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata. Josua menyarankan pemerintah mengubah indikator keberhasilan kebijakan dari kuantitas anggaran menjadi dampak nyata di pasar kerja.
"Rekomendasi saya, pemerintah perlu mengubah ukuran keberhasilan stimulus dari sekadar jumlah anggaran dan jumlah penerima menjadi dampak nyata terhadap daya beli, penyerapan kerja, dan kualitas pekerjaan," kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.