Kementerian ESDM Hitung Ulang Alokasi Program Kompor Listrik 2027
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum menetapkan target jumlah unit kompor listrik untuk program konversi tahun 2027 karena masih melakukan evaluasi mendalam, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Rabu (24/6/2026).
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa langkah penataan ini krusial agar kebijakan penyediaan perangkat tidak memicu ketergantungan pada produk impor. Pemerintah memprioritaskan pemetaan kemampuan produksi dalam negeri untuk mengoptimalkan anggaran negara yang tersedia.
"Jadi ya gini, kan kita menyiapkan bujet terlebih dahulu. Kan kita harus identifikasi. Jadi kan jangan kita membuat kebijakan, ternyata kita impor lagi untuk kompor listriknya.
Kalau harga impor dengan harga di lain negeri, kalau produksi di lain negeri, itu kan akan berbeda. Dari anggaran yang kita tetapkan, ya mungkin ini kalau kita beli di lain negeri, justru dapatnya lebih banyak. Jadi ini kita lakukan evaluasi lebih detail lagi," beber Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM saat ditemui di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Penetapan kuantitas program tersebut masih terus dikaji ulang oleh otoritas terkait. Kementerian ESDM memfokuskan analisis pada penentuan jenis teknologi kompor yang paling sesuai bagi masyarakat penerima manfaat.
"Jadi bujet kan sudah disampaikan waktu di DPR kemarin ya, tetapi berapa unitnya ini kita dalami lagi. Ya karena itu kan juga kompor listrik, yang pertama ini kan kompornya," terang Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.
Pemerintah juga mempertimbangkan kapasitas jaringan listrik pada segmen rumah tangga sasaran. Penyesuaian teknis diperlukan mengingat mayoritas target program merupakan kelompok pelanggan listrik bersubsidi.
"Termasuk daya untuk rumahnya. Kan rata-rata itu daya 450 [VA]," imbuh Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengonfirmasi adanya alokasi anggaran khusus senilai Rp815,56 miliar untuk membiayai program transisi energi tersebut. Pemerintah menjanjikan penggunaan perangkat dengan spesifikasi terbaru demi menjamin efisiensi optimal.
"Sebenarnya dahulu sudah pernah mau diimplementasikan. Ada model kompor listrik yang model baru. Jadi memang makin ke sini ada teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi kompor listrik yang lama," kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM pada Senin (15/6/2026).
Kajian efektivitas saat ini diarahkan untuk mengukur perbandingan dampak ekonomi penggunaan teknologi baru tersebut. Pemerintah ingin memastikan intervensi ini memberikan keuntungan konkret bagi masyarakat.
"Nah, kita juga sekarang sedang lagi melakukan penataan terhadap seberapa besar sih perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru," tambah Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyatakan skema program konversi ini dikembangkan secara paralel bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
"Belum sejauh itu, kompor listrik itu baru mau dikonsepkan dulu. Kita masih berhitung, makanya tadi anggaran memang sudah ada indikatornya. Namun, kita baru mau diskusi dengan Bappenas, karena sekarang paralel sedang melakukan kajian untuk konversi kompor listrik," ujar Eniya Listiani Dewi, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM pada Senin (15/6/2026).
Kementerian ESDM bersama PT PLN (Persero) kini tengah merumuskan kriteria teknis wilayah yang akan menjadi prioritas penyaluran awal bantuan. Fokus utama diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki kondisi kelistrikan regional tertentu.
"Belum tahu [terkait dengan penyaluran]. Ini nanti kan kalau pengguna kompor listrik, pasti tempat yang listriknya stabil. Itu kan salah satu kriteria yang mudah kita prediksi ya, lalu tempat yang mungkin surplus listrik dalam satu sistem. Kita sedang bahas dengan PLN juga," jelas Eniya Listiani Dewi, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM.