IHSG Anjlok ke Level 5.998 pada Sesi I Beriringan Pelemahan Rupiah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pembalikan arah dan melemah sebesar 1,69% ke level 5.998 pada penutupan Sesi I. Dilansir dari Bloomberg Technoz, penurunan tajam ini terjadi seiring dengan posisi mata uang rupiah yang merosot 0,61% hingga menjadi yang terlemah di Asia pada level Rp17.954/US$.
Koreksi bursa domestik dipicu oleh kejatuhan sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps sepanjang waktu perdagangan. Sektor barang baku mencatatkan pelemahan terdalam hingga 3,05%, yang kemudian diikuti oleh sektor energi sebesar 2,62% serta sektor infrastruktur yang melorot 2,31%.
Sejak pembukaan perdagangan pagi, indeks langsung berbalik arah ke zona negatif dengan rentang pergerakan di antara level 6.171 hingga titik terendahnya pada posisi 5.996. Data transaksi menunjukkan nilai perdagangan mencapai Rp5,71 triliun dari 10,59 miliar saham yang ditransaksikan sebanyak 888 ribu kali.
Kondisi pasar diwarnai oleh penurunan harga pada 406 saham, sementara hanya 226 saham yang mengalami penguatan, dan 169 saham lainnya bergerak stagnan. Beberapa emiten berbobot besar menjadi beban utama indeks, di antaranya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang membebani 9,05 poin, PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) 7,66 poin, dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) 7,66 poin.
Pelemahan ini juga menyeret saham perbankan raksasa seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 6,3 poin dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 6,29 poin. Indeks saham unggulan LQ45 turut bergerak di zona merah dengan koreksi pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar 5,39%, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 5,11%, serta PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang drop 4,67%.
Merosotnya nilai tukar rupiah sejak perdagangan pagi hingga siang hari menjadi faktor utama yang menyeret IHSG ke zona merah. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang gigih di pasar global menjadi pemicu utama koreksi mata uang garuda, di mana indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama bertahan tinggi pada level 101,47 setelah terapresiasi 0,1% secara point-to-point.
Apresiasi greenback dipicu oleh sikap hawkish Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang mengisyaratkan peluang kenaikan suku bunga acuan satu kali lagi pada tahun ini. Di pasar spot, rupiah terkoreksi ke Rp17.954/US$ dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.845/US$.
Jika tren kejatuhan berlanjut, level support psikologis rupiah berpotensi berada di kisaran Rp18.000/US$ hingga Rp18.100/US$. Tren negatif ini melanda seluruh mata uang di Benua Kuning akibat ketidakpastian negosiasi damai AS-Iran, dengan pelemahan melanda baht Thailand sebesar 0,75%, peso Filipina 0,33%, dolar Taiwan 0,25%, won Korea 0,23%, rupee India 0,15%, yuan China 0,09%, dolar Singapura 0,08%, ringgit Malaysia 0,07%, yen Jepang 0,01%, dan dolar Hong Kong 0,01%.
Evaluasi MSCI Menjadi Overhang Pasar Domestik
Selain faktor nilai tukar, kekhawatiran pelaku pasar terhadap keputusan penyedia indeks global MSCI turut memberatkan langkah investasi di Indonesia. MSCI Inc. memutuskan memperpanjang dan menunda peninjauan pasar saham Indonesia karena membutuhkan waktu lebih lama untuk menguji efektivitas reformasi transparansi yang baru diterapkan oleh otoritas.
Lembaga penyusun indeks tersebut mengapresiasi kebijakan transparansi domestik, seperti kewajiban keterbukaan pemegang saham di atas 1%, perincian klasifikasi investor, HSC, serta rencana peningkatan free float minimal menjadi 15%. Namun, MSCI menggarisbawahi bahwa konsistensi implementasi serta dampak nyata jangka panjang di pasar menjadi hal paling krusial bagi investor global.
Meski melakukan penundaan, MSCI tetap mempertahankan posisi Indonesia dalam kelompok Emerging Markets, yang setidaknya menahan pasar saham dalam negeri dari tekanan jual yang lebih masif. Berdasarkan catatan dari BRI Danareksa Sekuritas, penundaan ini menjadi peringatan tegas bahwa investor global masih mengkhawatirkan masalah transparansi kepemilikan, akurasi data free float, konsentrasi kepemilikan, dan indikasi coordinated trading.
“Risiko downgrade belum sepenuhnya hilang,” papar BRI Danareksa dalam catatan terbarunya, mengutip Rabu (24/6/2026).
MSCI menyatakan proses konsultasi untuk penurunan status menuju Frontier Market berpeluang dimulai apabila tidak dijumpai perbaikan signifikan hingga November 2026. Situasi ini dinilai memicu sikap hati-hati dari investor asing, sehingga aliran dana masuk ke pasar modal Indonesia diperkirakan terbatas dalam jangka pendek dan menjadi sentimen penahan sepanjang tahun.