Harga Gas Alam Cair Dunia Melonjak Tajam Sepanjang 2026

Share

Lonjakan harga gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) melanda pasar global sepanjang tahun 2026 akibat dinamika geopolitik yang memengaruhi pasar energi serta berdampak langsung pada biaya operasional berbagai sektor industri.

Kenaikan harga tersebut sangat dipengaruhi oleh pergerakan mekanisme spot yang fluktuatif di pasar internasional, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Praktisi migas Widhyawan Prawiraatmadja menjelaskan bahwa perolehan harga komoditas ini bergantung penuh pada jenis kesepakatan yang diambil oleh pembeli.

"Harga perolehan LNG tergantung dari apakah berdasarkan kontrak atau beli spot (dadakan). Spot bisa lebih murah atau lebih mahal seperti kondisi sekarang. Kalau mengikuti harga pasar ya naik turun harga adalah hal yang biasa, dan itu yang dihadapi oleh seluruh pengguna LNG," kata Widhyawan.

Pergerakan harga spot mencatat kenaikan signifikan seiring dengan lonjakan indeks Japan Korea Marker (JKM) sebesar 111 persen sepanjang 2026, yang menjadi acuan perdagangan wilayah Asia Pasifik. Tren kenaikan tersebut juga selaras dengan Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 yang melonjak hingga 99 persen dari rencana awal tahun.

"Jadi memang naik cukup tinggi," tegasnya.

Selain mekanisme pasar spot, transaksi perdagangan LNG global juga memanfaatkan sistem kontrak jangka panjang. Sistem tersebut umumnya mengandalkan indeks harga minyak mentah sebagai acuan utama penentuan harga dasar bagi para pihak yang bertransaksi.

"Pembeli yang mempunyai kesepakatan berdasarkan kontrak biasanya menggunakan basis harga minyak (oil index)," terang Widhyawan.

Penentuan harga kontrak tersebut menggunakan formula persentase khusus yang dipengaruhi oleh volume ketersediaan pasokan di pasar internasional. Nilai persentase akan menyusut jika pasokan melimpah, dan sebaliknya akan membesar jika pasokan di pasar menipis.

"Misal atas dasar presentase dari harga minyak, itu disebut slope. Presentase bervariasi tergantung kapan kontrak tersebut dinegosiasikan dan ditandatangani. Kalau supply lagi banyak slope cenderung mengecil dan begitu sebaliknya," ulasnya.

Dampak penyesuaian harga ini menempatkan nilai jual LNG industri di Indonesia pada kisaran 21 hingga 25 dolar AS per MMBTU, setelah sebelumnya sempat dipertahankan pada level rendah sejak awal tahun. Nilai ini masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Sebagai perbandingan, harga LNG industri di Filipina menyentuh 28,50 dolar AS per MMBTU, sedangkan Vietnam berada di angka 27,81 dolar AS per MMBTU. Sementara itu, Singapura mencatat harga tertinggi sebesar 40,12 dolar AS per MMBTU untuk industri besar dan 47,54 dolar AS per MMBTU untuk sektor ritel.

Situasi volatilitas sektor energi non-subsidi global ini dipandang melahirkan tantangan ganda yang menuntut adanya keseimbangan kebijakan. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai ketegangan geopolitik memicu dilema bagi korporasi penyedia sekaligus pengguna energi.

"Situasi ini menyebabkan adanya twin dilemma. Industri penyedia energi menghadapi lonjakan biaya operasional dan tekanan regulasi, sementara industri pengguna mengalami kenaikan biaya produksi yang terkadang tidak bisa diteruskan ke konsumen," ungkapnya.

Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan tidak mengambil kebijakan sepihak yang merugikan salah satu sektor usaha dalam rantai pasok energi ini. Menurut David, keberlanjutan ekonomi jangka panjang hanya dapat dicapai melalui solusi yang adil bagi kedua belah pihak.

"Kenaikan harga seluruh energi non-subsidi termasuk LNG menjadi keniscayaan karena terjadi secara global. Meski begitu, membela satu sektor misalnya sektor industri pengguna dan mengorbankan industri penyedia energi maupun sebaliknya, kata David, bukan merupakan solusi yang berkelanjutan."

"Justru dapat menimbulkan masalah baru," tegasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author