Tradisi Arisan Mampangan Bertahan Bantu Keuangan Warga Jakarta

Share

Dilansir dari Detik Finance, Jakarta menjelang usia ke-499 tahun terus berkembang pesat secara modern. Namun, praktik ekonomi tradisional tetap menjadi andalan masyarakat, salah satunya adalah instrumen keuangan mikro bernama Arisan Mampangan. Tradisi kolektif ini banyak ditemukan di wilayah pinggiran Jakarta hingga Depok.

Masyarakat memanfaatkannya sebagai wadah menabung secara gotong royong demi mengelola pengeluaran saat Hari Raya Idul Fitri tiba. Kebertahanan sistem ini membuktikan bahwa akses inklusi keuangan tidak selalu berasal dari institusi perbankan. Warga justru menciptakan solusi mandiri yang dinilai paling sesuai dengan kondisi ekonomi rumah tangga mereka.

Penamaan Mampang menyimpan rekam jejak masa lalu yang cukup panjang. Berdasarkan literatur Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat, kata tersebut merujuk pada aliran sungai dari Ragunan menuju Kali Krukut.

Pada era kolonial Belanda, kawasan sungai itu difungsikan sebagai penanda batas wilayah kekuasaan tuan tanah. Jejak historis inilah yang kemudian diwariskan hingga memunculkan nama daerah Mampang di Jakarta maupun Depok. Dalam operasionalnya, sistem tabungan warga ini menawarkan fleksibilitas tinggi. Saat mendaftar, setiap orang bebas menentukan pilihan paket kebutuhan Lebaran seperti daging sapi, bahan sembako pokok, maupun aneka kue kering.

Iuran yang ditetapkan sangat terjangkau, berkisar dari Rp 1.000 sampai Rp 10.000 per hari. Waktu penyetoran dapat disesuaikan menjadi harian, mingguan, atau bulanan dengan syarat komitmen keikutsertaan minimal selama enam bulan. "Nilai paket arisan ini memang dirancang untuk meringankan ibu-ibu. Istilahnya memanfaatkan sisa-sisa uang receh di rumah daripada habis untuk jajan saja," ujar Inna, salah satu koordinator lapangan Arisan Mampangan di Depok.

Jika terjadi kesulitan finansial di pertengahan jalan, anggota bebas menyesuaikan pilihan paket tanpa dikenakan kewajiban tambahan. Asas keadilan juga diterapkan apabila terjadi fluktuasi harga bahan pangan di pasaran menjelang hari raya. Peserta hanya perlu membayar selisih kekurangan jika harga barang melonjak naik. Sebaliknya, panitia akan mengembalikan kelebihan dana dalam wujud tambahan barang jika harga aktual di pasar ternyata lebih rendah.

Mitigasi Risiko dan Penguatan Ekonomi Warga

Meskipun terkesan mudah, pengelolaan dana berbasis kepercayaan warga ini menyimpan risiko tersendiri. Integritas dari para koordinator lapangan menjadi kunci utama agar tidak terjadi insiden penyelewengan dana iuran kelompok.

"Pernah ada yang menggunakan dana arisan untuk bisnis ternak bebek. Ternyata usahanya gagal dan akhirnya dia harus menjual mobil serta rumahnya untuk mengembalikan uang anggota," kenangnya. Insiden semacam itu mendorong penerapan sistem pengawasan sederhana, yakni setiap peserta wajib memegang buku catatan setoran.

Transparansi ini sangat krusial mengingat perputaran uang dalam kelompok bisa menembus angka ratusan juta rupiah per tahun. Sebagai kompensasi atas tugas pengelolaannya, pengurus lapangan berhak mendapatkan biaya administrasi sekitar lima hingga sepuluh persen dari total dana. Kebijakan ini sekaligus membuka peluang penghasilan ekonomi tambahan bagi para koordinator.

Di sisi lain, anggota arisan merasa sangat terbantu dengan instrumen keuangan mikro akar rumput ini. Kepastian pemenuhan kebutuhan hari raya tanpa jeratan utang menjadi motivasi utama mereka untuk terus disiplin menabung.

"Ya saya ikut Arisan Mampangan supaya tidak pusing memikirkan harga daging saat Lebaran nanti. Kalau pun ada tambahan biaya tidak terlalu besar. Lumayan daripada uang receh-receh itu habis untuk hal yang kurang penting.

Jadi nanti keluarga bisa menikmati rendang saat Lebaran," ujar salah seorang anggota. Praktik seperti Arisan Mampangan memberikan perspektif berbeda mengenai perluasan akses finansial nasional. Kemampuan menabung komitmen bagi keluarga berpenghasilan tidak tetap jauh lebih penting ketimbang sekadar memiliki akun di bank konvensional.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author