IHSG Melemah ke Level 6.101, Investor Asing Catat Jual Bersih Rp348 Miliar

Share

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (23/6) ditutup di zona merah. Dikutip dari Detik Finance, Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) turun 0,25% ke level 6.101,33. Pelemahan ini dipicu oleh tekanan aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Selain itu, arus dana asing yang keluar dari pasar modal domestik juga masih terus berlanjut. Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp348,13 miliar di pasar reguler. Sementara itu, nilai net sell di seluruh pasar mencapai Rp311,60 miliar.

Di tengah pelemahan indeks, saham BBRI naik 1,39%, BRPT menguat 5,35%, dan SRAJ melesat 8,85%. Ketiga saham tersebut menjadi penopang utama IHSG hari ini.

Sebaliknya, koreksi tajam saham BYAN sebesar 9,85% menjadi pemberat indeks. Kondisi ini diperparah oleh pelemahan saham BBCA yang turun 1,61% serta BMRI yang melemah 2,37%. Dari 11 sektor yang diperdagangkan, empat sektor berakhir di zona negatif. Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam sebesar 1,05%, sedangkan sektor kesehatan memimpin penguatan sebesar 3,97%.

Tinjauan Klasifikasi Pasar Menurut MSCI

Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh hasil tinjauan tahunan klasifikasi pasar dari MSCI. Indonesia masih dipertahankan dalam kelompok Emerging Market oleh lembaga tersebut. Meski demikian, pelaku pasar mencermati catatan MSCI mengenai aspek investabilitas pasar modal domestik. Di sisi lain, ETF EIDO menguat 0,41%, sedangkan indeks MSCI Indonesia turun 0,44%.

Pergerakan pasar global juga ikut memengaruhi psikologis investor. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah dengan Dow Jones turun 0,09% ke level 51.666, S&P 500 terkoreksi 1,44% ke 7.365, dan Nasdaq turun 2,22% ke 25.587. Dalam MSCI 2026 Market Classification Review, sejumlah langkah perbaikan regulator dan infrastruktur pasar modal dalam negeri mendapat penilaian khusus.

Langkah tersebut meliputi peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1%. Regulator juga mengimplementasikan kebijakan High Shareholding Concentration. Selain itu, terdapat rencana peningkatan batas minimum free float menjadi 15%.

MSCI mengapresiasi reformasi tersebut, namun menyatakan akan terus memantau efektivitas penerapannya. Jika hingga November 2026 perkembangan belum sesuai harapan, konsolidasi terkait perubahan klasifikasi pasar Indonesia dapat dibuka.

Perkembangan Emiten RANS dan ESSA

PT Rans Entertainment Indonesia (RANS) sedang menjalani masa book building pada 23-25 Juni 2026. Perusahaan media dan hiburan ini dijadwalkan melantai di BEI pada 10 Juli 2026. RANS menawarkan maksimal 2,52 miliar saham baru atau setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Kisaran harga saham perdana dipasang pada Rp135-Rp170 per lembar. Target dana yang dihimpun dari aksi korporasi ini mencapai Rp429,25 miliar. Nilai kapitalisasi pasar RANS setelah IPO diperkirakan berada pada rentang Rp1,70 triliun hingga Rp2,14 triliun.

Alokasi dana IPO direncanakan sebesar 6,98% untuk pelunasan pinjaman ke BNI dan 18,64% untuk proyek Cipungland. Sebesar 37,61% dialokasikan untuk operasional konser artis lokal maupun internasional.

Selanjutnya, 8,15% dana digunakan untuk entitas baru berbasis kecerdasan buatan (AI) bersama Feedloop Global Teknologi. Sebesar 19,80% untuk akuisisi saham Rans Kosmetika Indonesia, dan 8,82% sisanya sebagai modal anak usaha RNS. Sementara itu, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) menetapkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp52 per saham. Total nilai dividen tersebut mencapai Rp895,80 billion.

Nilai dividen ini lebih tinggi daripada laba bersih pemilik entitas induk 2025 yang tercatat US$40,29 juta atau sekitar Rp713,93 miliar. Selisih sebesar Rp181,87 miliar akan diambil dari saldo laba ditahan. Pendapatan ESSA pada 2025 tercatat US$295,01 juta, mengalami penurunan 2,12% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar US$301,40 juta. Laba bersih juga turun 10,83% dari posisi US$45,18 juta pada 2024.

Saham ESSA ditutup pada level Rp660 per saham pada perdagangan 23 Juni 2026. Dengan nominal dividen tersebut, imbal hasil dividen (dividend yield) tercatat sekitar 7,88%. Jadwal cum dividen ESSA di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 26 Juni 2026. Pembayaran dividen dijadwalkan akan berlangsung pada 15 Juli 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author