Bursa Saham Asia Bangkit Setelah Sektor Teknologi Global Anjlok

Share

Pasar saham di Asia mencatatkan pemulihan moderat pada perdagangan Rabu (24/6) pagi untuk menghentikan kepanikan setelah aksi jual melanda sektor teknologi global. Pemulihan ini terjadi menyusul kekhawatiran bahwa reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI) bergerak terlalu cepat hingga mengalami jenuh beli.

Pergerakan pasar ini dilansir dari Bloombergtechnoz, di mana Indeks MSCI Asia Pacific naik hampir 1% pada awal perdagangan setelah sempat merosot 3,6% pada Selasa kemarin. Sementara itu, Indeks Kospi melonjak sekitar 4% setelah anjlok 10% pada sesi sebelumnya, didorong saham Samsung Electronics Co yang melesat 10% menyusul laporan rencana program pembelian kembali saham.

Kondisi pasar yang fluktuatif membuat perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan Micron Technology Inc yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu. Hasil laporan ini dinilai menjadi petunjuk penting terkait kekuatan permintaan terhadap infrastruktur kecerdasan buatan untuk menopang reli pasar sepanjang tahun 2026.

Kepala Analis Teknikal BTIG LLC, Jonathan Krinsky memberikan pandangannya mengenai risiko pasar di sektor ini.

"Terlepas dari apakah pasar akan kembali menguat dalam jangka pendek atau tidak, kami masih melihat risiko penurunan untuk sektor teknologi dan AI dalam jangka menengah," kata Jonathan Krinsky, Kepala Analis Teknikal BTIG LLC.

Ia memperkirakan saham-saham semikonduktor masih berpotensi mengalami penurunan tambahan sebesar 10% hingga 15% ke depan.

Di sisi lain, pergerakan tajam di pasar saham Korea Selatan memicu perdebatan mengenai potensi gelembung pasar.

"Kita belum tahu apakah gelembungnya sudah pecah," kata Paul Gambles, salah satu pendiri dan Managing Partner MBMG Group.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini bisa menjadi koreksi kecil sebelum pasar kembali bergerak naik, atau justru menjadi awal dari koreksi yang jauh lebih besar.

Sentimen pasar obligasi juga mengalami penyesuaian seiring berubahnya ekspektasi kebijakan moneter.

"Pada titik ini, pasar sudah cukup banyak memperhitungkan prospek The Fed yang lebih hawkish," kata Izaac Brook, Strategis Suku Bunga RBC Capital Markets.

Izaac Brook menambahkan bahwa imbal hasil riil obligasi dua tahun kini telah mencapai level tertinggi sejak Bank Sentral AS mulai memangkas suku bunga pada September 2024 lalu.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author