Prabowo Subianto Hadiri Penutupan Munas dan Konbes NU di Bangkalan

Share

Presiden Prabowo Subianto menghadiri sekaligus memberikan pidato dalam penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, pada Selasa (23/6).

Dilansir dari Detikcom, Kepala Negara tiba dengan mengenakan baju safari khaki dan peci untuk menyapa para nahdliyin yang berada di lokasi acara. Kedatangan Presiden disambut oleh jajaran petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), termasuk Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dan Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf.

Sejumlah pejabat negara turut mendampingi Presiden dalam acara ini, di antaranya Menag Nasaruddin Umar, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Ketua MPR Ahmad Muzani, serta Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono. Ketika mengawali pidatonya, Prabowo menyapa para menteri dari latar belakang NU dan berkelakar mengenai banyaknya kader organisasi ini di dalam Kabinet Merah Putih maupun partai politik.

"Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Menteri PPPA sekaligus Ketum PP Muslimat NU Arifatul. Ini Kabinet Merah Putih banyak sekali NU-nya ya," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Prabowo kemudian melayangkan pujian terhadap sistem kaderisasi yang berjalan di tubuh NU. Menurutnya, keberadaan anggota NU di berbagai lini menunjukkan kekuatan organisasi keagamaan tersebut.

"NU memang hebat. Selalu berada di mana-mana ya kan. Semua partai, NU hadir," ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Ia menambahkan bahwa fleksibilitas posisi politik ini membuat NU memiliki keunggulan tersendiri dalam peta perpolitikan nasional.

"Jadi NU nggak pernah kalah. Hebat, hebat. Kalau belajar politik seharusnya dari NU," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Selain membahas masalah politik, Prabowo mengungkapkan kenyamanan pribadinya berada di lingkungan warga NU. Kenyamanan tersebut didasari oleh kedekatan historis masa kecilnya yang bertetangga dengan keluarga Gus Dur serta latar belakang neneknya yang merupakan warga NU.

"Memang saya merasa selalu nyaman di tengah-tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Nyaman dan aman, merasa aman. Sambutan yang demikian besar kepada saya.

Masalahnya memang saya kenal keluarga besar Nahdlatul Ulama dari sejak kecil karena dulu saya tetangganya keluarga Gus Dur di Jakarta. Dan eyang saya, eyang putri saya, memang dari NU," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Prabowo juga menggarisbawahi karakter NU sebagai organisasi keagamaan yang menjunjung tinggi semangat nasionalisme dan patriotisme sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.

"Dan juga ada satu ciri khas yang saya dari dulu perhatikan, bahwa Nahdlatul Ulama adalah memang organisasi keagamaan tapi sangat nasionalis, sangat patriotik, sangat cinta Tanah Air. Jadi agamis tapi nasionalis dan patriotik. Sampai-sampai lagunya NU yang ditulis atau dibuat sebelum Indonesia merdeka tapi sudah mengandung nilai-nilai cinta Tanah Air yang luar biasa," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Ia mencontohkan lagu tradisi 'Ya Lal Wathon' yang selalu dinyanyikan dengan penuh semangat dan kepalan tangan menyerupai tradisi militer.

"Dan ini masih dipertahankan setiap acara NU saya perhatikan lagu 'Ya Lal Wathon' tidak pernah tidak dinyanyikan. Terima kasih. Bahkan nyanyinya itu tangannya pun harus kepalan, kepalan.

Ini luar biasa ini, ini belum ada Kopassus, NU sudah lebih dari Kopassus. Sekarang apa itu TNI, kan ada itu kalau foto (pose) salam komando, NU sudah dulu, sebelum merdeka sudah salam komando itu," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Di sisi lain, Presiden menyoroti posisi strategis para kiai dan ulama sebagai figur yang berinteraksi langsung dengan lapisan masyarakat terbawah di pedesaan.

"Nahdlatul Ulama, organisasi para kiai, para ulama. Para kiai dan para ulama adalah menurut saya tokoh-tokoh yang paling dekat dengan rakyat. Paling dekat apalagi dengan rakyat di pedesaan," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Prabowo menilai sensitivitas ulama terhadap persoalan rakyat memiliki kemiripan dengan aparat keamanan seperti TNI dan Polri yang juga lahir dari lingkungan rakyat.

"Karena itu, para kiai, para ulama paham, mengerti apa yang dirasakan rakyat. Para kiai dan para ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Prabowo meyakini keselarasan pemahaman antara ulama dan aparat negara menjadi modal penting bagi bangsa.

"Karena itu, ada suatu perkembangan alamiah karena tentara pejuang, polisi, dan aparat juga berasal dari rakyat. Karena itu, ulama, pemerintahan, tentara, kepolisian sesungguhnya paham dan mengerti perasaan rakyat," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Pada bagian akhir pidatonya, Prabowo menyisipkan candaan mengenai pembagian otoritas kepatuhan antara dirinya sebagai umara dan para ulama dalam konteks ruang acara serta Istana Negara.

"Harus patuh dengan kiai kalau di sini. Di Istana, kiai patuh sama saya. Itu namanya ulama sama umara (pemimpin) bersatu untuk bangsa dan negara," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author