Alan Wilson Memenangkan Pemilihan Runoff Gubernur South Carolina
Jaksa Agung South Carolina Alan Wilson diproyeksikan memenangkan pemilihan runoff gubernur dari Partai Republik setelah mengalahkan Wakil Gubernur Pamela Evette pada Selasa, 23 Juni 2026. Kemenangan ini diraih setelah Wilson mendapatkan dukungan dari berbagai pihak termasuk pengesahan ganda di saat-saat terakhir dari Presiden Donald Trump.
Dilansir dari CNN, hasil ini membuat Donald Trump berhasil menjaga reputasinya setelah beberapa kegagalan rekomendasi dalam pemilu primer di Iowa dan Georgia. Sebelumnya, Trump hanya mendukung Evette sebelum pemilu primer tanggal 9 Juni, tetapi mengubah strateginya menjelang pemilihan penentu ini.
"South Carolina" seru Mike Reichenbach, Rekan Pendamping Alan Wilson.
Mantan rival Wilson, Nancy Mace, langsung menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan dramatis tersebut. Wilson berhasil bangkit setelah sebelumnya berada di posisi kedua pada putaran pertama pemilu primer.
"Complete and Total Endorsement." kata Donald Trump, Presiden AS.
Perubahan sikap Trump memberikan dampak besar bagi kubu Evette yang selama ini sangat bergantung pada status sebagai kandidat pilihan utama presiden.
"proud" kata Pamela Evette, Wakil Gubernur South Carolina.
Sementara itu, pemilu primer di New York menjadi ujian besar bagi pengaruh politik Wali Kota Zohran Mamdani setelah enam bulan menjabat. Pertarungan ideologis ini juga melibatkan perdebatan sengit mengenai regulasi kecerdasan buatan (AI) di Distrik ke-12.
"misinformation" ujar Alex Bores, Kandidat Kongres Demokrat New York.
Bores menegaskan bahwa dirinya berkomitmen penuh dalam melindungi masyarakat dari ancaman teknologi tanpa regulasi yang jelas.
"Last year, I passed the strongest AI safety bill in the country over Donald Trump’s executive order. I followed it up this year with the strongest bill to protect kids from AI chatbots," kata Alex Bores, Kandidat Kongres Demokrat New York.
Di Distrik ke-13 New York, ketegangan rasial juga mewarnai persaingan antara petahana Adriano Espaillat dan penantangnya Darializa Avila Chevalier setelah adanya komentar kontroversial mengenai bendera Republik Dominika.
"violent excrement." kata Darializa Avila Chevalier, Kandidat Demokrat.
Tuduhan bermotivasi rasial bermunculan di wilayah Washington Heights yang memiliki komunitas besar warga keturunan Dominika.
"change the demography of Washington Heights," kata Mantan Penasihat Senior Espaillat.
Di Washington DC, isu penegakan hukum kembali mencuat setelah adanya penangkapan di Lincoln Memorial Reflecting Pool terkait tuduhan perusakan fasilitas publik.
"for the damage they did to" ucap Donald Trump, Presiden AS.
Salah satu warga lokal yang ditangkap bernama Christian Miles menyatakan bahwa dirinya berniat untuk menentang dakwaan tersebut di pengadilan.
"document the creeping police state" kata Christian Miles, Editor Video Lepas.
Miles ditangkap atas dasar aturan perilaku tidak tertib yang melarang penggunaan bahasa atau tindakan yang dianggap mengancam kedamaian publik.
"language, an utterance, or gesture, or engages in a display or act that is obscene, physically threatening or menacing, or done in a manner that is likely to inflict injury or incite an immediate breach of the peace." bunyi hukum Federal Regulations.
Sebelum penangkapannya, Miles sempat berargumen dengan petugas keamanan mengenai kebebasan berekspresi di Amerika Serikat.
"because you can be out here and you can video all you want to … Go to China, they’d run over you in a tank in Red Square." kata Polisi Patroli Oklahoma.
Di Senat AS, perdebatan mengenai batas kekuasaan perang presiden kembali memanas terkait resolusi konflik dengan Iran.
"directs the President to remove United States Armed Forces from hostilities against the Islamic Republic of Iran" bunyi Resolusi Kekuatan Perang.
Wakil Presiden JD Vance menilai aturan pembatasan tersebut tidak sejalan dengan hak konstitusional pemimpin negara.
"every president, Democrat or Republican, believes that the war powers act is fundamentally a fake and unconstitutional law" kata JD Vance, Wakil Presiden.
Namun, pakar hukum internasional menilai argumen penolakan tersebut keliru karena undang-undang tersebut disahkan secara sah melalui mekanisme supermayoritas.
"is the duly enacted law of the United States, sustained over presidential objection by a constitutionally prescribed supermajority" kata Michael J. Glennon, Profesor Hukum Internasional di Universitas Tufts.
Di sisi lain, anggota Senat dari Partai Republik menyuarakan penolakan karena menganggap resolusi tersebut tidak akan dipatuhi oleh eksekutif akibat putusan Mahkamah Agung masa lalu.
"a concurrent resolution process… has been held unconstitutional by the United States supreme court, so whatever happens with this, its going to have no effect, the president isn’t going to pay any attention to it." kata Jim Risch, Senator Republik Idaho.
Dari ranah olahraga, persiapan pertandingan Piala Dunia antara Iran dan Mesir terganggu oleh keluhan resmi terkait fasilitas latihan.
"restrictions imposed by the organisers" kata Perwakilan Tim Iran.