SBS Rilis Seri dan Dokumenter Sepak Bola Australia Menjelang Piala Dunia 2026

Share

Jaringan penyiaran SBS meluncurkan rangkaian program sepak bola baru berupa seri audio dan film dokumenter khusus di Australia pada Rabu, 24 Juni 2026.

Peluncuran ini bertepatan dengan momentum dimulainya Piala Dunia FIFA 2026 untuk menyoroti peran sepak bola dalam membangun kohesi sosial dan komunitas. SBS Audio menghadirkan seri berjudul Beautiful Game Changers yang merangkum 12 kisah inspiratif dari berbagai tokoh imigran dan komunitas di Australia.

Salah satu tokoh yang diangkat adalah Labin Gurung, pendiri Sagarmatha Football Club di barat daya Sydney yang membantu para imigran asal Nepal.

"We try to accommodate them, we help them in finding jobs. we try to keep them away from, being lonely or being isolated from home. Through football, we try and reconnect them with the society." kata Labin Gurung, Pendiri Sagarmatha Football Club.

Klub tersebut juga aktif membantu anggotanya yang mengalami masalah kecanduan judi secara profesional dan tertutup.

"When we have someone who is suffering from a gambling problem in our club, we take it very seriously and we try to take it professionally as well. We try not to let other members know about his problem." ujar Labin Gurung, Pendiri Sagarmatha Football Club.

Kisah lain datang dari Alison Todd dan Tracey Atkinson yang mendirikan Flying Bats Football Club di Sydney pada tahun 1985.

"We decided that we'd like to do some sort of activity to keep ourselves healthy and we thought about, ‘Why don't we do soccer?’" kata Alison Todd dan Tracey Atkinson, Pendiri Flying Bats Football Club.

Klub tersebut kini berkembang menjadi klub sepak bola perempuan LGBTQIA+ dan non-biner terbesar di dunia. Sementara itu, mantan pemain sepak bola profesional Allira Toby menggunakan sepak bola untuk membuka jalur olahraga bagi generasi muda pribumi melalui John Moriarty Football.

"I think the closest thing for me was Kathy Freeman, which I mean probably sounds so cliche, but you know, I guess being an Indigenous girl growing up there wasn't many people that look like me on television." kata Allira Toby, Perwakilan John Moriarty Football.

Program tersebut kini menjangkau 5.000 anak setiap minggu termasuk di wilayah terpencil demi membuka perspektif dan peluang baru.

"If there's representation and there's opportunity and there's pathways that really open the door and change perspectives." ujar Allira Toby, Perwakilan John Moriarty Football.

Pengungsi Yazidi bernama Sulaiman Zandinan juga menemukan jalan hidup baru di Australia dengan menjadi wasit di liga utama negara bagian Queensland.

"They destroyed everywhere. They killed thousands of people. They took me and 30 people from my family members." kata Sulaiman Zandinan, Wasit Sepak Bola Queensland.

Zandinan melarikan diri ke Australia setelah kelompok ISIS menyerang komunitasnya di Sinjar saat ia masih berusia 12 tahun.

"I want to show them that you have help you can reach if you need help and not just myself. There are many other people like me and better than me available and helping our community." ujar Sulaiman Zandinan, Wasit Sepak Bola Queensland.

Cerita ketangguhan lain dibawa oleh Fatima Yousufi, mantan penjaga gawang tim nasional Afghanistan yang melarikan diri dari Kabul pada tahun 2021.

"We can give that hope for all those girls who are in Afghanistan and thinking like, you know, nothing will change, but there will be a hope. And that's our message always." kata Fatima Yousufi, Penjaga Gawang Afghan Women United.

Bersamaan dengan seri audio tersebut, SBS juga menayangkan film dokumenter berjudul Wogball: Australia’s Beautiful Game yang dipandu oleh aktor Anthony LaPaglia. Dokumenter ini mengulas sejarah sepak bola Australia yang berhasil mengatasi rasisme institusional di era Kebijakan Australia Putih, permusuhan media, serta persaingan ketat dari kode olahraga lain.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author