TasteAtlas Masukkan Paniki Sulawesi Utara dalam Daftar Makanan Terburuk di Dunia 2026

Share

Situs ensiklopedia kuliner global TasteAtlas kembali merilis daftar makanan terburuk di dunia untuk tahun 2026. Kuliner tradisional asal Sulawesi Utara, paniki, menempati peringkat ke-24 dalam daftar tersebut.

Situs ini mengumpulkan penilaian audiens melalui mekanisme khusus yang menyaring dan mengabaikan penilaian bot serta sentimen nasionalis lokal. Dilansir dari Detik Food, terdapat 777.514 penilaian yang masuk hingga 16 Juni 2026, dengan 504.634 di antaranya dinyatakan sah oleh sistem.

TasteAtlas mengategorikan paniki sebagai hidangan khas Minahasa yang memanfaatkan kelelawar sebagai bahan dasar utamanya. Meskipun kerap dinilai sebagai kuliner ekstrem oleh dunia internasional, konsumsi daging kelelawar merupakan tradisi yang melekat bagi masyarakat Minahasa.

Hidangan ini telah menjadi bagian dari warisan budaya dan tradisi kuliner Manado selama berabad-abad. Penggunaan rempah-rempah khas Sulawesi Utara memberikan cita rasa yang dinilai unik oleh masyarakat setempat.

Proses pembuatan paniki diawali dengan membakar kelelawar guna menghilangkan seluruh bulunya. Setelah dibersihkan dan dikeluarkan bagian ususnya, daging mamalia terbang ini dipotong-potong menjadi bagian kecil lalu direbus dalam air.

Masakan ini kemudian dibumbui dengan campuran bawang goreng, bawang putih, jahe, daun bawang, daun kari, serai, serta santan. Proses tersebut menghasilkan aroma yang kuat dengan perpaduan rasa pedas dan gurih yang biasanya disantap bersama nasi putih.

Rating Rendah dan Klaim Manfaat Kesehatan

Penggunaan bahan baku hewani yang ekstrem membuat paniki masuk ke dalam daftar global ini. Di laman resmi TasteAtlas, kuliner khas ini hanya mendapatkan rating sebanyak 2.2 bintang.

Meski mendapatkan penilaian rendah di skala global, sebagian masyarakat memercayai bahwa daging kelelawar menyimpan nilai gizi yang tinggi. Kandungan dalam daging tersebut diyakini ampuh untuk meredakan serta mengobati gangguan kulit yang disebabkan oleh alergi.

Daging hewan ini juga dipercaya dapat menjadi alternatif penyembuhan bagi penderita penyakit asma dan gangguan sesak napas. Hal tersebut didasari oleh adanya kandungan senyawa kitotefin yang memiliki fungsi serupa dengan obat asma.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author