Krisis Chip Memori Global Picu Penurunan Permintaan Smartphone Baru 15 Persen

Share

Industri smartphone global menghadapi periode ujian baru pada tahun 2026 dengan proyeksi penurunan permintaan hingga 15%. Kondisi ini dipicu oleh krisis chip memori skala global yang dilansir dari Bloombergtechnoz membuat pasar bergejolak. Meskipun pasar perangkat baru tertekan, permintaan terhadap smartphone bekas atau second-hand justru diproyeksikan bakal melonjak tajam.

FDM CCS Insight mengutarakan bahwa kenaikan biaya komponen membuat produsen menetapkan harga jual yang lebih tinggi.

Langkah penyesuaian harga ini, termasuk yang dijanjikan oleh Apple Inc., memicu kontraksi pasar smartphone sebesar 14,8%. Penurunan terdalam diperkirakan terjadi pada awal kuartal sekitar 4,4%, yang tetap terjadi meski produsen sudah menimbun stok barang sebelumnya.

Seperti dilaporkan TechRadar, situasi pelik tersebut dipercaya mendorong konsumen untuk beralih mencari alternatif perangkat yang lebih murah. Laporan dari FDM CCS Insight mengonfirmasi telah terjadi lonjakan harga smartphone pada kelas entry-level hingga mencapai sekitar 50%.

Analis riset Ben Hatton menjelaskan dampak kenaikan harga ini akan jauh lebih dirasakan oleh kelompok konsumen tertentu. "Pengguna tetap menggunakan ponsel lama mereka dan dampak ini akan jauh lebih terasa bagi konsumen yang membeli ponsel dengan harga di bawah US$500 (sekitar Rp8,9 juta)," dikutip Selasa (23/6/2026). "Sejumlah pelanggan tetap butuh smartphone baru… dan kami ramal permintaan perangkat bekas akan naik karena banyak dari mereka tidak mampu membeli perangkat baru."

Saat ini komponen memori menjadi barang yang kian langka sekaligus sangat dibutuhkan oleh berbagai sektor teknologi.

Perangkat memori semakin dicari untuk pusat data yang menjadi infrastruktur penting bagi sektor kecerdasan buatan (AI) yang tengah booming. Berbagai pusat perakitan kini saling bersaing ketat demi mendapatkan kapasitas produksi DRAM dan NAND flash yang sama. Padahal kedua jenis memori tersebut juga menjadi andalan produsen smartphone, sehingga ketersediaan pasokan untuk perangkat konsumen akhirnya menipis.

Komponen memori sendiri menyumbang lebih dari 30% dari daftar bahan baku atau bill of materials untuk beberapa model smartphone.

Tekanan pada produsen diperkirakan terus memengaruhi perangkat kelas bawah dan menengah seiring penyesuaian strategi harga sepanjang tahun. Pasar smartphone bekas kini mulai menikmati keuntungan dari perubahan perilaku konsumen yang menolak lonjakan harga perangkat baru.

Penjualan ponsel bekas terpantau naik sebesar 4% year on year (yoy) selama kuartal pertama tahun 2026. FDM CCS Insight memproyeksikan ceruk pasar ponsel second-hand ini akan terus bertumbuh hingga mencapai 15,4% sepanjang tahun 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author