Aksi Jual Asing Picu Penghentian Sementara Saham KOSPI Korea

Share

Aksi jual agresif oleh investor asing memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt setelah indeks saham acuan Korea Selatan, KOSPI, anjlok hingga 10 persen pada perdagangan Selasa (23/6).

Kejatuhan indeks bursa saham Negeri Gingseng tersebut terjadi setelah kontrak berjangka KOSPI merosot 5 persen dan memaksa indeks jatuh di bawah level psikologis 9.000 poin.

Tekanan jual berlebih ini juga dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar global terhadap efektivitas belanja modal dan kemampuan monetisasi kecerdasan buatan (AI) oleh raksasa teknologi di Amerika Serikat yang turut menyeret indeks Nasdaq di Wall Street.

Berdasarkan data Korea Exchange (KRX) yang dilansir CNBC Indonesia, KOSPI dibuka di level 9.083,54 sebelum akhirnya ambles ke posisi 8.203 akibat penjualan bersih investor asing senilai 1,18 triliun won hingga 2,8 triliun won.

Analis Kiwoom Securities, Han Ji-Young, menilai koreksi tajam ini sebagai dampak jangka pendek dari lonjakan harga saham semikonduktor dalam beberapa waktu terakhir.

"Penurunan dipicu oleh meningkatnya tekanan aksi ambil untung dari investor asing," imbuh Han seperti dikutip Reuters.

Han Ji-young juga menambahkan bahwa fokus utama investor saat ini seharusnya tertuju pada fundamental laba perusahaan, bukan sekadar pergantian posisi kapitalisasi pasar terbesar.

"Faktor yang lebih penting adalah apakah kenaikan harga saham didorong oleh valuasi yang berlebihan atau peningkatan fundamental laba perusahaan," kata Han Ji-young seperti dikutip CNBC Indonesia.

Sektor produsen chip domestik menjadi penekan utama setelah saham Samsung Electronics merosot 12,31 persen dan SK Hynix berbalik anjlok hingga 12,47 persen menyusul pengakuan otoritas bursa yang terlalu tergesa-gesa menyetujui produk investasi leverage.

Koreksi ini juga menjalar ke saham unggulan lain seperti Hyundai Motor dan KIA yang melemah di atas 12 persen berdasarkan laporan idnfinancials.com, sementara mata uang won Korea ikut melemah 0,31 persen ke kisaran 1.539,4 per dolar AS.

Menteri Keuangan Korea Selatan, Koo Yun-Cheol, mengatakan nilai tukar won saat ini tak sesuai dengan fundamental ekonomi negaranya.

Dari pasar komoditas global, meredanya risiko geopolitik menyusul perkembangan positif negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran turut menekan harga minyak mentah WTI sebesar 2,32 persen ke level US$74,82 per barel serta membuat harga emas berjangka turun 1,10 persen ke posisi US$4.199,10 per ons.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author