Donald Trump Beri Ancaman Baru terhadap Iran Usai Negosiasi Swiss
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman baru terhadap Iran pada Senin (22/6) setelah selesainya negosiasi teknis kedua negara di Swiss terkait pembentukan kelompok kerja isu nuklir dan sanksi ekonomi. Hubungan kedua negara sempat memanas setelah serangan militer AS dan Israel ke Iran yang memicu aksi balasan ke wilayah Israel serta negara-negara Teluk, sebelum akhirnya Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan sementara pekan lalu. Dilansir dari Detikcom, perundingan di Swiss menghasilkan keputusan untuk membentuk empat kelompok kerja yang berfokus pada penghentian sanksi, urusan nuklir, rekonstruksi pembangunan ekonomi, serta pemantauan implementasi kesepakatan.
"Jika Iran tidak memenuhi kesepakatan mereka, atau jika mereka tidak berperilaku baik, saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan," kata Trump kepada wartawan pada Senin (22/6).
Poin krusial lain yang disepakati adalah pencairan dana Iran yang selama ini dibekukan, di mana pihak AS meminta dana tersebut dialokasikan secara eksklusif untuk sektor pangan. "Semua uang itu akan kembali dalam bentuk pembelian makanan yang sangat mereka butuhkan. Mereka memiliki 91 miIian penduduk, mereka tidak mampu memberi makan rakyat. Jadi, uang yang kita cairkan akan diberikan kepada para petani kita," kata Trump, dilansir Al Arabiya dan Reuters pada Selasa (23/6/2026).
Pernyataan pemimpin AS tersebut segera mendapatkan respons dari otoritas moneter Iran terkait kebebasan penggunaan dana eksternal mereka. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi dan Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati menegaskan bahwa Teheran tidak memiliki kewajiban dalam nota kesepahaman untuk membeli input pertanian hanya dari AS.
Hemmati menyatakan bahwa sisa dana yang dicairkan dapat digunakan untuk membeli komoditas lain yang tidak termasuk dalam objek sanksi global. Konflik bersenjata sebelumnya antara AS-Israel dan Iran dilaporkan telah menewaskan ribuan korban jiwa, memicu jutaan pengungsi, serta menyebabkan guncangan besar pada pasar komoditas dan lonjakan harga minyak mentah dunia.