Saham Asia Anjlok Akibat Ketegangan Geopolitik Iran dan Sentimen Fed
Mayoritas bursa saham Asia mengalami kejatuhan signifikan pada hari Selasa setelah para investor melakukan aksi ambil untung menyusul penurunan saham teknologi di Wall Street semalam. Penurunan ini dipimpin oleh indeks Kospi Korea Selatan yang merosot lebih dari 6% akibat koreksi tajam pada saham produsen chip utama. Sentimen pasar regional semakin diperlemah oleh ketidakpastian geopolitik terkait kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran serta proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Selain Kospi, indeks Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong juga mencatatkan pelemahan dengan penurunan masing-masing lebih dari 1% pada hari yang sama. Kekhawatiran investor mencuat menyusul adanya pesan yang bertolak belakang dari pejabat kedua negara mengenai inspeksi nuklir Iran. Perbedaan pandangan ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi di pasar global.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa pihak Iran telah menyetujui akses bagi pemantau nuklir dan bersedia menerima inspeksi senjata yang komprehensif sebagai bagian dari langkah diplomasi. Namun, pernyataan tersebut segera disanggah oleh kementerian luar negeri Iran melalui media negara yang menegaskan bahwa Teheran tidak membuat komitmen baru terkait inspeksi tersebut.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir, melampaui kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari potensi aksi militer. Di pihak Teheran, ketegangan semakin dipertegas oleh pernyataan mengenai status wilayah strategis di kawasan tersebut. Negosiator utama sekaligus Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan kepada media negara pada hari Selasa bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kendali penuh administrasi Teheran dan tidak akan dikembalikan ke status sebelum perang.
Kondisi pasar saham kian tertekan oleh sikap hawkish Federal Reserve pada pertemuan pekan lalu yang memicu ekspektasi kenaikan biaya pinjaman dalam waktu dekat. Berdasarkan data Alat FedWatch CME Group, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 70% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga pada September, dan probabilitasnya meningkat menjadi 90% untuk kenaikan pada Desember 2026.