Peserta Magang Nasional Minta Kemnaker Benahi Sistem dan Pengawasan

Share

Sejumlah peserta Program Magang Nasional meminta Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melakukan perbaikan sistem dan pengawasan lapangan pada Selasa (23/6/2026), seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

Para lulusan baru mengapresiasi manfaat program dalam memberikan pengalaman kerja dan penghasilan, namun mereka menyoroti gangguan teknis pada platform digital serta lemahnya pemantauan terhadap perusahaan mitra.

Salah seorang peserta magang, Nuramalina mengeluhkan situs web resmi program yang kerap mengalami gangguan akses akibat tingginya jumlah pendaftar yang mencapai puluhan hingga ratusan ribu orang.

"Sistem web-nya sering error bahkan tidak bisa diakses. Padahal peserta yang mendaftar jumlahnya sangat besar, pernah mencapai puluhan hingga ratusan ribu orang. Kalau program ini akan terus berkembang, sistemnya juga harus lebih siap untuk menampung kebutuhan peserta," kata Nuramalina, Peserta Magang Nasional.

Selain masalah teknologi, Nuramalina juga mengungkapkan adanya laporan digital mengenai perusahaan mitra yang diduga tidak menjalankan program sesuai ketentuan di lapangan.

"Ada kasus-kasus yang bahkan sempat viral di media sosial. Memang sebagian sudah ditangani, tetapi pengawasan terhadap perusahaan mitra masih perlu diperkuat agar peserta mendapatkan hak dan pengalaman yang sesuai," sebut Nuramalina, Peserta Magang Nasional.

Kekurangan dalam komunikasi antara pihak penyelenggara, mentor, dan peserta juga dirasakan oleh Andi Putra, seorang peserta magang di BNN Sawahlunto.

"Kalau bisa ke depan ada admin atau perwakilan Kemnaker yang lebih aktif dan mudah dihubungi, bahkan sampai tingkat provinsi. Beberapa kali mentor kami mengajukan pertanyaan tetapi tidak mendapat respons. Sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami informasi program," ujar Andi Putra, Peserta Magang Nasional.

Andi menilai bahwa kehadiran sistem pendampingan yang lebih responsif dari Kemnaker akan sangat membantu penyelesaian berbagai kendala teknis selama masa magang.

Sementara itu, kendala administrasi laporan harian menjadi catatan bagi Syifa Anindya, seorang peserta magang di Bisnis Indonesia.

"Programnya sudah sangat baik, tetapi ke depan perlu peningkatan pada manajemen beban kerja dan sinkronisasi sistem laporan tugas antara platform MagangHub dengan aktivitas kerja harian peserta. Dengan begitu proses administrasi dan pelaporan bisa lebih efisien," sebut Syifa Anindya, Peserta Magang Nasional.

Menurut Syifa, efektivitas program peningkatan keterampilan ini akan lebih optimal jika didukung oleh stabilitas sistem digital, responsivitas administrasi, serta pengawasan ketat.

Dari sisi dunia usaha, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kurikulum pendidikan saat ini belum sepenuhnya adaptif terhadap perkembangan digitalisasi dan kebutuhan industri.

"Saat ini masih terdapat kesenjangan antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan industri," kata Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo.

Bob menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada kompetensi individu peserta, melainkan lambatnya sistem pendidikan dalam mengikuti dinamika sektor industri.

"Banyak materi yang diajarkan sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan dunia usaha. Sehingga lulusan membutuhkan pengalaman langsung agar siap bekerja," tambah Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo.

Pihak pengusaha berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk membenahi sistem pendidikan nasional agar lebih selaras dengan perkembangan lapangan kerja.

"Jadi kita mengimbau supaya kurikulum pendidikan di reformasi. Yang disesuaikan perkembangan di dunia usaha," jelas Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author