Mantan Presiden Timor Leste Francisco Guterres Meninggal Dunia

Share

Mantan Presiden Timor Leste sekaligus tokoh pergerakan kemerdekaan, Francisco Guterres, meninggal dunia dalam usia 71 tahun pada hari Minggu di Prince Court Medical Centre, Kuala Lumpur, Malaysia, setelah sempat menjalani perawatan intensif.

Kabar duka tersebut disampaikan oleh pihak keluarga melalui akun Facebook resmi mendiang mantan presiden. Kendati demikian, penyebab kematian Guterres tidak diungkapkan secara mendetail kepada publik.

Sosok yang dikenal dengan nama gerilya "Lu Olo" ini memegang jabatan sebagai presiden dari tahun 2017 hingga 2022. Kepemimpinannya menjadi puncak dari keterlibatan panjangnya dalam perjuangan politik dan bersenjata demi kemerdekaan negara termuda di Asia Tenggara tersebut pada 2002.

Ungkapan dukacita mendalam datang dari berbagai pihak internasional atas berpulangnya sang tokoh perjuangan.

"Throughout his life, he remained committed to the freedom of his people and the building of a democratic nation," kata Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam pesan belasungkawa kepada keluarga dan rakyat Timor Leste.

Selain dari pemerintah negara tetangga, apresiasi terhadap dedikasi mendiang juga disuarakan oleh partai politik yang pernah dipimpinnya.

Fretilin, partai yang dipimpin Guterres selama bertahun-tahun, menyatakan bahwa kematian sang tokoh merupakan sebuah "profound loss" bagi semua pihak yang memiliki tujuan serupa dalam membangun negara yang merdeka, demokratis, dan berdaulat.

Pihak partai turut menggarisbawahi dedikasi seumur hidup Guterres terhadap gerakan kemerdekaan serta perannya dalam mempromosikan persatuan nasional, dialog, perdamaian, dan stabilitas politik sepanjang karier publiknya.

Lahir pada 7 September 1954 di Ossu, sebuah kota di Distrik Viqueque yang saat itu bernama Timor Portugis, Guterres meniti karier sebagai komandan gerilya yang menonjol selama masa perlawanan terhadap pendudukan Indonesia dari tahun 1975 hingga 1999. Sebagai pemimpin senior Fretilin, ia kemudian memainkan peran penting dalam transisi menuju kemerdekaan setelah referendum yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1999.

Selanjutnya, ia menjabat sebagai presiden Majelis Konstituante pada tahun 2001 untuk mengawasi perancangan konstitusi Timor Leste, dan menjadi ketua parlemen nasional pertama setelah kemerdekaan penuh diraih. Setelah beberapa kali mencalonkan diri tanpa hasil, ia memenangkan pemilu presiden pada 2017 dan menjabat selama satu periode, sebelum akhirnya kalah dari presiden saat ini, Jose Ramos-Horta, pada pemilu 2022.

Pemerintah Timor Leste kini telah menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari dengan menurunkan bendera menjadi setengah tiang di seluruh gedung publik dan kantor misi diplomatik mereka di luar negeri.

Mendiang Francisco Guterres meninggalkan seorang istri, Cidalia Lopes Nobre Mouzinho Guterres, beserta anak-anak mereka. Pengumuman mengenai rencana prosesi pemakaman akan disampaikan oleh pihak terkait dalam waktu dekat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author