Pendukung Evo Morales Bentrok dengan Polisi di Ibu Kota Bolivia
Ribuan pendukung mantan Presiden Evo Morales terlibat bentrok dengan aparat kepolisian di ibu kota La Paz, Bolivia, pada Senin, 18 Mei 2026. Massa menggalang aksi protes besar-besaran untuk menuntut pengunduran diri Presiden Rodrigo Paz di tengah krisis ekonomi terburuk dalam satu generasi terakhir.
Gelombang demonstrasi dan blokade jalan yang telah melumpuhkan berbagai kota selama dua minggu terakhir ini memicu kelangkaan parah pada pasokan pangan, bahan bakar, dan logistik medis. Langkah penutupan jalur transportasi utama tersebut berdampak langsung pada pasokan rumah sakit serta mengosongkan rak-rak supermarket di wilayah perkotaan.
Pasukan keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau demonstran yang membawa dinamit dan ketapel sebelum mereka berhasil mendekati gedung parlemen serta istana kepresidenan. Berdasarkan laporan Kejaksaan Agung setempat, kericuhan yang diwarnai perusakan fasilitas publik ini berujung pada penangkapan sedikitnya 90 orang oleh pihak berwenang.
Wakil Menteri Dalam Negeri Hernán Paredes menegaskan batasan hukum bagi para pengunjuk rasa di tengah situasi ketegangan yang terus meningkat.
"They can march if it’s peaceful, but we will take action if they commit crimes," ujar Hernán Paredes, Wakil Menteri Dalam Negeri.
Pemerintah menuduh mantan Presiden Evo Morales, yang saat ini bersembunyi di wilayah tropis terpencil untuk menghindari surat perintah penangkapan kasus asusila, sebagai aktor intelektual di balik kerusuhan ini. Sebanyak delapan pemerintah negara Amerika Latin telah merilis pernyataan bersama yang menolak segala tindakan destabilisasi terhadap ketertiban demokratis di Bolivia.