Andy Burnham Bersiap Gantikan Keir Starmer Jadi Perdana Menteri Inggris
Peluang besar Andy Burnham untuk naik ke puncak kepemimpinan politik Inggris mencerminkan kapasitasnya sebagai politisi ulung, orator andal, dan organisator ulung. Kualitas-kualitas inilah yang dinilai oleh banyak anggota Parlemen tidak dimiliki oleh pemegang jabatan saat ini, Keir Starmer.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, politisi Partai Buruh berusia 56 tahun dan mantan Wali Kota Greater Manchester tersebut kini bersiap menggantikan Starmer sebagai perdana menteri. Langkah ini diambil setelah sang petahana mengumumkan pengunduran dirinya pada 22 Juni.
Awal Mula di Parlemen
Burnham lahir di wilayah Liverpool dari ayah yang bekerja sebagai teknisi telepon dan ibu yang berprofesi sebagai resepsionis. Ia bergabung dengan Partai Buruh pada usia 15 tahun. Ia menempuh pendidikan sastra Inggris di Universitas Cambridge.
Setelah lulus, Burnham mengikuti jalur yang umum ditempuh politisi Inggris dengan bekerja sebagai peneliti di parlemen. Ia pertama kali terpilih sebagai anggota House of Commons atau Parlemen Inggris pada 2001. Dirinya kemudian menjadi penasihat serta menteri di pemerintahan Perdana Menteri saat itu, Tony Blair.
Burnham turut mendukung intervensi militer Inggris di Irak pada 2003 bersama Amerika Serikat. Jabatan tertingginya adalah Menteri Kesehatan di bawah pemerintahan penerus Blair, Gordon Brown.
Setelah itu, ia menjadi salah satu dari sedikit tokoh era Blair yang tetap bekerja bersama Jeremy Corbyn. Pemimpin sayap kiri Partai Buruh tersebut kemudian tersingkir dari partai. Burnham dua kali mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh. Namun, dukungannya terhadap invasi Irak menjadi hambatan dalam kedua upaya tersebut.
Pada kontestasi kepemimpinan 2015, ia kalah telak dari Corbyn. Burnham kemudian meninggalkan parlemen pada 2017.
Menjadi Wali Kota Manchester
Ia membangun kembali karier politiknya sebagai pembela masyarakat kelas pekerja di wilayah utara Inggris selama lebih dari dua periode menjabat sebagai Wali Kota Manchester. Wilayah tersebut merupakan salah satu kota terbesar di Inggris. Di bawah kepemimpinannya, ekonomi Greater Manchester berkembang pesat dengan pertumbuhan dua kali lebih cepat dibanding rata-rata nasional.
Burnham berhasil meningkatkan profil kawasan tersebut. Langkah ini menjadi simbol optimisme bagi wilayah yang kini memiliki kepercayaan diri yang kontras dengan suasana nasional. Ia mendapat julukan "King of the North", merujuk pada serial Game of Thrones, setelah menyampaikan pidato keras.
Pidato tersebut mengkritik perlakuan pemerintah terhadap Manchester selama pandemi Covid-19. Julukan itu kemudian melekat pada dirinya.
Selama setahun terakhir, Burnham berupaya menjadikan rekam jejaknya di Manchester sebagai cetak biru pembaruan nasional. Hasilnya adalah konsep yang ia sebut "Manchesterism". Konsep tersebut merupakan sebuah strategi politik yang menekankan pengendalian layanan publik di tingkat lokal serta optimisme yang ia bangun di wilayah asalnya. Kebijakan andalannya adalah reformasi sistem transportasi bus.
Arah Kebijakan Ekonomi dan Sosial
Burnham diperkirakan akan mengadopsi pendekatan yang lebih intervensionis dalam mengelola ekonomi Inggris yang sedang lesu. Ia berulang kali menyatakan bahwa kelompok kaya harus membayar pajak lebih besar.
Ia juga mendorong reformasi besar terhadap layanan sosial yang tengah mengalami kesulitan. Burnham mengusulkan program pembangunan perumahan publik, serta mendukung pembatasan tarif bus lokal sebesar £2. Burnham juga menginginkan perusahaan utilitas swasta Thames Water berada di bawah kepemilikan publik. Perusahaan tersebut melayani sebagian besar wilayah selatan Inggris.
Pelaksanaan gagasan-gagasan tersebut sebagian akan bergantung pada siapa yang ia pilih sebagai Menteri Keuangan atau Chancellor of the Exchequer. Pejabat ini bertanggung jawab atas kebijakan pajak dan belanja negara. Burnham juga menyerukan program reindustrialisasi di wilayah utara Inggris. Ia menilai sistem pendidikan perlu diarahkan untuk mendorong masyarakat meniti karier di sektor industri, bukan hanya melalui jalur universitas.
Meski demikian, Burnham bukan tipikal politikus progresif sayap kiri. Ia pernah mengusulkan pengurangan belanja kesejahteraan sosial untuk mendanai peningkatan anggaran pertahanan. Ia juga mendukung Menteri Dalam Negeri Shabana Mahmood dan berpendapat reformasi imigrasi yang dilakukan pemerintah perlu diperluas. Selain itu, Burnham mendukung kepala kepolisian Manchester yang dikenal menentang sejumlah kebijakan progresif di bidang peradilan pidana hingga dijuluki sebagai tokoh "anti-woke".
Dampak terhadap Pasar Keuangan
Tahun lalu, ketika namanya mulai disebut sebagai calon pengganti Starmer, Burnham menyatakan Inggris harus keluar dari ketergantungan terhadap pasar obligasi. Pernyataan itu memicu kekhawatiran investor mengenai kemungkinan defisit anggaran yang lebih besar dan peningkatan utang pemerintah.
Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah Inggris meningkat seiring menguatnya peluang Burnham menantang Starmer. Burnham kemudian menegaskan komentarnya disalahartikan. Belakangan ia berupaya menenangkan investor dengan berkomitmen mempertahankan aturan fiskal yang ditetapkan Menteri Keuangan saat ini, Rachel Reeves.
Aturan tersebut mengharuskan pengeluaran rutin pemerintah ditutup melalui penerimaan pajak dan memastikan rasio utang terhadap ekonomi terus menurun. Burnham juga berjanji tidak akan membuat pengecualian terhadap aturan itu, termasuk untuk belanja pertahanan. Langkah ini diambil hanya beberapa pekan setelah sempat mengusulkan gagasan tersebut dalam wawancara dengan Bloomberg.
Reaksi pasar terhadap kemungkinan perubahan aturan fiskal nantinya diperkirakan akan sangat bergantung pada waktu, cara penyampaian, dan siapa yang dipilih Burnham sebagai Menteri Keuangan. Para sekutunya menyebut Burnham tidak berencana mempertahankan Reeves di posisi tersebut.
Dukungan Internal dan Kritik
Burnham membangun citra sebagai sosok yang dekat dengan rakyat. Selama menjabat Wali Kota Manchester, ia dikenal sebagai pembela wilayah utara Inggris dan pemilih kelas pekerja. Karakter tersebut menjadi faktor penting yang mengangkatnya dari politikus daerah menjadi kandidat kuat pemimpin nasional. Di sejumlah kota di utara Inggris, banyak pemilih yang sebelumnya mendukung Partai Buruh beralih ke Reform UK.
Reform UK merupakan partai anti-imigrasi yang didirikan oleh tokoh pendukung Brexit, Nigel Farage. Partai ini dipandang sebagai ancaman terbesar bagi Partai Buruh pada pemilu berikutnya yang dijadwalkan paling lambat pada 2029. Banyak kolega Burnham di Partai Buruh menilai ia adalah peluang terbaik mereka untuk mencegah Reform UK merebut kekuasaan. Para pendukung Burnham, termasuk Menteri Energi Ed Miliband, melihat kemampuannya bekerja bersama tokoh sentris seperti Tony Blair maupun tokoh kiri seperti Jeremy Corbyn sebagai bukti pragmatisme politiknya.
Namun para pengkritiknya menilai hal itu justru menunjukkan kelemahan yang juga mereka lihat pada Starmer, yakni kurangnya keyakinan ideologis yang kuat untuk merancang dan menjalankan proyek pemerintahan yang konsisten. Burnham tidak membantah bahwa ia pernah berpindah aliansi politik. Menurutnya, hal itu terjadi karena ia selalu mengutamakan kepentingan partai dibanding kelompok atau faksi tertentu.
Sejumlah perubahan sikap terbaru kembali memunculkan kritik bahwa fleksibilitas Burnham terkadang terlihat seperti ketidakkonsistenan. Sebagian pendukung kecewa ketika ia menolak upaya membawa Inggris kembali bergabung dengan Uni Eropa, padahal sebelumnya ia pernah mendukung gagasan tersebut. Kekhawatiran lain adalah Burnham mungkin tidak memiliki ruang fiskal yang cukup untuk mewujudkan berbagai rencana ambisiusnya.
Setelah timnya berkomitmen mempertahankan aturan pembatasan belanja dan utang yang berlaku saat ini, sejumlah tokoh Partai Buruh khawatir kondisi ekonomi Inggris akan membuat Burnham pada akhirnya menjalankan kebijakan yang tidak jauh berbeda dari sosok yang hendak ia gantikan.