Kenali Tanda Seseorang Diam-Diam Menganggap Anda sebagai Saingan

Share

Hubungan pertemanan tidak selalu berjalan hangat dan suportif. Terkadang, rasa tidak aman serta kecemburuan dapat muncul hingga mengubah interaksi menjadi penuh persaingan tersembunyi. Dilansir dari HaiBunda, penting untuk mendeteksi indikasi tersebut sejak awal.

Hal ini bertujuan agar seseorang dapat bersikap lebih bijak dalam menghadapi orang yang diam-diam menganggapnya sebagai rival. Berdasarkan informasi dari Your Tango, ada beberapa isyarat tubuh yang menunjukkan kecemburuan seseorang terhadap pencapaian Anda. Salah satunya adalah tatapan mata yang intens.

Studi dalam European Journal of Social Psychology tahun 2018 menemukan hubungan langsung antara tingkat daya saing dengan tatapan mata saat berinteraksi. Individu dengan kepribadian dominan cenderung melakukan kontak mata langsung yang lebih banyak.

Ketika Anda menyadari adanya kontak mata langsung yang mengejutkan, terdapat kemungkinan orang tersebut sedang bersaing dengan Anda secara rahasia. Intuisi personal juga dapat menjadi panduan untuk merasakan aura dari niat mereka.

Memperhatikan Mikro-Ekspresi Negatif

Indikator berikutnya dapat dilihat dari ekspresi wajah yang tidak disadari. Istilah mikro-ekspresi ini dicetuskan oleh antropolog Dr. Paul Ekman untuk merujuk pada emosi yang spontan muncul dalam sepersekian detik.

Menurut Ekman, terdapat tujuh ekspresi mikro yang bisa diidentifikasi, termasuk kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, jijik, penghinaan, ketakutan, dan kejutan. Dalam menghadapi orang yang kompetitif, Anda perlu mewaspadai kemarahan, rasa jijik, serta penghinaan.

Untuk mengasah kemampuan identifikasi ini, seseorang dapat berlatih di depan cermin. Meniru gerakan wajah dengan membayangkan emosi tertentu dapat membantu mengenali mikro-ekspresi yang kerap muncul tanpa disadari.

Meniru Keputusan dan Opini

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang mulai meniru Anda secara berlebihan. Peniruan ini tidak hanya sebatas hal kecil, melainkan meluas ke wilayah opini hingga keputusan hidup. Landasan utama dari interaksi yang dipicu rasa iri dan cemburu adalah kesuksesan orang lain. Penulis buku The Business of Friendship: Making the Most of the Relationships Where We Spend Most of Our Time, Shashta Nelson, memberikan pandangannya terkait hal ini.

"Rasa iri mengacu pada kecenderungan untuk percaya bahwa orang lain tidak seharusnya memiliki sesuatu hanya karena kita tidak memilikinya." kata Shashta Nelson. Reaksi tersebut tidak hanya memicu kekesalan yang merusak jalinan pertemanan. Sikap ini juga mendatangkan kecemasan serta stres pada tubuh karena bersumber dari rasa takut.

Cara Menyikapi Persaingan Tersembunyi

Sikap kompetitif sebenarnya tidak selalu bermakna negatif. Kondisi ini terkadang menjadi bentuk permintaan tolong dari teman, atau bahkan menjadi motivasi untuk memicu perubahan dan pertumbuhan ke arah yang lebih baik.

Energi kompetitif dapat berdampak positif selama kedua belah pihak tetap saling memberikan dukungan. Sebaliknya, permusuhan yang disembunyikan di dalam sebuah hubungan pertemanan dipastikan tidak sehat.

Teman atau anggota keluarga yang iri mungkin tidak berniat buruk, namun kehadiran mereka tidak memberikan nilai tambah bagi kebahagiaan. Langkah yang dapat diambil adalah menetapkan batasan yang jelas atau mengajak mereka berbicara secara langsung.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author