Warga Lombok Timur Tolak Kedatangan Agam Rinjani dan Panji Petualang
Gelombang penolakan massal dari masyarakat dan Gerakan Advokasi Nusantara (GANAS) Lombok Timur meluas terhadap rencana kedatangan Agam Rinjani bersama Panji Petualang ke Gunung Rinjani pada Juni 2026.
Aksi penolakan tersebut dipicu oleh rencana pembuatan konten liputan khusus untuk memperingati satu tahun evakuasi pendaki asal Prancis bernama Juliana, yang dinilai mengeksploitasi isu Rinjani demi popularitas sepihak.
Gelombang protes ini memicu respons dari musisi lokal, Igor "Amtenar", yang menyampaikan sindiran satire melalui akun media sosialnya terkait fenomena perebutan klaim jasa di Gunung Rinjani tersebut.
"Aku sih enggak nolak, senang banget malah, semakin banyak orang yang konsen sama Rinjani. Cuma mau tanya saja, belum cukupkah? Masih kurang? Apa enggak sekalian bikin film Rambo 6 atau Cliffhanger 2 gitu?" ujar Igor melalui akun Facebook miliknya.
Pemain bas tersebut menilai para pembuat konten sebaiknya mengangkat kebudayaan lokal daerah daripada terus memproduksi materi yang memicu kontroversi di tengah masyarakat.
"Daripada bikin begituan yang kontroversi mending bikin film bertema sasak lombok, nanti judulnya ‘Aku pokok mesak ku paling tabah. Paling lelah. Paling berjase sedunie atas langit bawah tanah. Tidak boleh ngomong lagi’," lanjut Igor memberikan usulan judul jenaka.
Ia kemudian menyarankan agar pihak terkait segera merealisasikan ide pembuatan film bertema Suku Sasak tersebut.
"Bagus kan judulnya? Bikin gih. Buruan," tambah Igor.
Sebelumnya, perwakilan GANAS Lombok Timur, Royall Sembahulun, telah menyatakan sikap tegas menolak kedatangan Agam Rinjani karena mencium adanya penggiringan narasi tunggal atas aksi penyelamatan setahun lalu.
"Tentunya kami kecewa. Tiba-tiba setahun menghilang, dan sekarang ingin datang untuk memamerkan dirinya. Bahwa orang yang paling berjasa di dalam penyelamatan Juliana," kata Royall meluapkan kekecewaannya.
Royall menegaskan bahwa operasi evakuasi yang ekstrem tersebut merupakan hasil kerja keras bersama dari sedikitnya tujuh orang relawan lokal yang bertaruh nyawa di medan berat.
Di sisi lain, Panji Petualang langsung mengambil langkah aktif untuk meredakan situasi dengan merilis pernyataan maaf secara terbuka melalui akun Instagram resminya.
"Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan siap mengevaluasi setiap konten. Agar tidak lagi menyinggung warga lokal," tulis Panji dalam unggahannya.
Berbeda dengan Panji, Agam Rinjani justru memilih tetap bungkam dan menghindari sorotan publik, serta belum memberikan respons atas upaya konfirmasi yang dilayangkan oleh media NTBSatu.