OPEC Proyeksikan Permintaan Minyak Global Terus Tumbuh Hingga 2050

Share

Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memproyeksikan permintaan minyak global tidak akan mencapai titik puncak dalam waktu dekat dan justru memperkirakan terjadinya pertumbuhan yang kuat, dilansir dari Bloombergtechnoz pada Senin (22/6/2026).

Kenaikan konsumsi didorong oleh prioritas pemerintah di negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa yang lebih mengutamakan ketahanan serta keterjangkauan harga energi dibandingkan target iklim. Dalam laporan tahunan World Oil Outlook, permintaan minyak diproyeksikan melonjak dari 105,1 juta barel pada tahun 2025 menjadi 113,3 juta barel per hari pada 2030, kemudian menyentuh 124,1 juta barel per hari pada tahun 2050.

Pergeseran fokus pemerintah global ini dinilai memengaruhi komitmen lingkungan yang telah disepakati sebelumnya.

"Meningkatnya fokus pada ketahanan energi dan keterjangkauan harga energi telah mengubah lanskap kebijakan energi di seluruh dunia," kata OPEC.

Pihak organisasi menambahkan bahwa perubahan haluan kebijakan ini berimplikasi langsung terhadap pergerakan konsumsi energi dunia.

"Dalam banyak kasus, pergeseran ini mencerminkan pembalikan, penundaan, atau pembatalan target dan komitmen ambisius sebelumnya yang bertujuan mengurangi permintaan minyak." jelas OPEC.

Proyeksi optimistis dari OPEC ini bertolak belakang dengan pandangan Badan Energi Internasional (IEA) yang berbasis di Paris. IEA memprediksi konsumsi minyak dunia justru akan anjlok sebesar 1,1 juta barel per hari tahun ini akibat dampak perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran yang dinilai jauh lebih dalam dari perkiraan awal.

Namun, setelah konflik mereda dan Selat Hormuz dibuka kembali pekan ini, anggota OPEC seperti Kuwait langsung bersiap mengembalikan level produksi mereka seperti sebelum perang. Di sisi lain, OPEC memperkirakan produksi minyak serpih (shale oil) AS sebagai kompetitor akan mencapai puncak pada tahun 2025 dengan angka sedikit di atas 9 juta barel per hari.

Tingginya permintaan energi masa depan ini dipandang membutuhkan sokongan dana yang besar demi menjaga stabilitas pasokan global.

"Skala kebutuhan energi umat manusia menuntut investasi berkelanjutan saat ini di seluruh sektor energi dan teknologi," kata Sekretaris Jenderal OPEC Haitham Al Ghais.

Haitham Al Ghais memaparkan akumulasi dana yang diperlukan untuk menjaga pemenuhan konsumsi jangka panjang tersebut.

"Untuk minyak saja, investasi sebesar US$17,7 triliun dari tahun 2026 hingga 2050—atau lebih dari US$700 billion per tahun—diperlukan untuk memenuhi permintaan dalam jangka panjang." tutur Haitham Al Ghais.

Berdasarkan laporan tersebut, pertumbuhan konsumsi terbesar dalam beberapa dekade mendatang diproyeksikan datang dari kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. India menjadi kontributor utama dengan tambahan 8,1 juta barel per hari selama periode proyeksi, sedangkan dari aspek sektoral, pertumbuhan tertinggi akan dipimpin oleh transportasi darat, petrokimia, serta penerbangan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author