KNKT Ungkap Instruksi Pusdal dalam Insiden KA Argo Bromo Anggrek

Share

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan instruksi dari Pusat Pengendali (Pusdal) Manggarai kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek sebelum menabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Kamis (21/5).

Pengendali operasi hanya meminta masinis untuk mengurangi kecepatan dan memperbanyak pembunyian Semboyan 35, yaitu klakson panjang lokomotif. Instruksi ini diberikan setelah pihak Pusdal menerima laporan awal mengenai adanya tabrakan antara KRL lain dengan taksi listrik Green SM di perlintasan dekat stasiun tersebut.

Akibat kecelakaan taksi itu, warga berkerumun dan membuat satu KRL arah Cikarang terhenti di Stasiun Bekasi Timur, yang kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek. Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan bahwa masinis sebenarnya langsung merespons dengan melakukan pengereman dari jarak 1.300 meter setelah menerima informasi kecelakaan di jalur depan.

Namun, keterbatasan informasi suara membuat pihak Pusdal belum mengetahui kondisi riil di lapangan secara visual.

"Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter setelah menerima berita bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman. Cuma karena situasinya kan di Pusdal itu tidak tahu yang sebenarnya karena komunikasinya kan lewat suara saja, lewat voice," kata Soerjanto Tjahjono, Kepala KNKT di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Karena tidak memperoleh gambaran visual, pengendali operasi di Pusdal berasumsi situasi dapat diatasi dengan pengurangan kecepatan biasa.

"Jadi kondisi lapangannya seperti apa dia enggak tahu, cuma memberi tahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35," ujar Soerjanto Tjahjono.

Menurut laporan KNKT, masinis mematuhi seluruh arahan yang disampaikan oleh pengendali operasi tersebut.

"Nah itu aja yang disampaikan, sehingga masinis sudah melakukan merespons apa yang disampaikan oleh Pusdal dari pengendali operasi di Manggarai," kata Soerjanto Tjahjono.

KNKT juga memaparkan alasan logis mengapa petugas Pusdal tidak langsung mengeluarkan perintah untuk menghentikan penuh laju kereta api sejak awal.

"Ya karena memang di Pusdal kan temperan seperti apa, mereka belum tahu kondisi lapangannya seperti apa, maka dia positive thinking saja bahwa kurangi kecepatan lah intinya untuk berhati-hati dan banyak-banyak memberikan semboyan 35 atau memberi klakson," ujar Soerjanto Tjahjono.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author