Laba Bersih BNI Tumbuh Menjadi Rp9,05 Triliun per Mei 2026
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) membukukan laba bersih sebesar Rp 9,05 triliun per Mei 2026 berkat kuatnya kinerja intermediasi dan pendapatan non-bunga. Pencapaian emiten berkode saham BBNI ini tumbuh sebesar 7,06 persen secara tahunan. Dilansir dari laporan keuangan perbankan pada Senin, 22 Juni 2026, akselerasi profitabilitas tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Pada April 2026, pertumbuhan laba bersih tahunan perseroan berada di level 6,07 persen. Lonjakan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 15,18 persen menjadi Rp 18,12 triliun menjadi penyokong utama perolehan laba. Kenaikan ini selaras dengan pendapatan bunga yang tumbuh 15,56 persen menjadi Rp 13,04 triliun hingga April 2026.
Meskipun demikian, beban bunga bank berkode saham BBNI tersebut juga ikut terkerek naik sebesar 16,08 persen menjadi Rp 13,04 triliun. Tantangan operasional lain muncul dari pembengkakan beban impairment sebesar 30,58 persen menjadi Rp 3,72 triliun.
Kondisi tersebut mengerek total biaya operasional sebesar 29,85 persen menjadi Rp 7,21 triliun. Namun, tekanan dapat diimbangi oleh pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi yang tumbuh 10,81 persen menjadi Rp 4,43 triliun. Hasilnya, laba operasional tetap mencatatkan hasil positif sebesar Rp 10,9 triliun atau naik 7,17 persen. Dari aspek fungsi intermediasi, penyaluran kredit emiten tumbuh ekspansif sebesar 24,55 persen menjadi Rp 940,88 triliun.
Peningkatan pembiayaan tersebut mendorong total aset BNI melesat hingga mencapai Rp 1.365,36 triliun. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat melaju sebesar 33,15 persen menjadi Rp 1.063,91 triliun. Struktur pendanaan pihak ketiga ini sebagian besar masih disokong oleh dana mahal berupa deposito yang melonjak 49,19 persen menjadi Rp 337,1 triliun. Di sisi lain, perolehan dana murah (CASA) tumbuh 26,83 persen menjadi Rp 726,81 triliun.
Rincian penempatan dana murah tersebut meliputi sektor giro yang tumbuh sebesar 37,64 persen menjadi Rp 439,94 triliun. Sedangkan pos tabungan masyarakat mengalami peningkatan sebesar 13,2 persen menjadi Rp 286,86 triliun.