Penjualan Mobil Listrik Global Melonjak Sepuluh Kali Lipat dalam Enam Tahun

Share

Pasar kendaraan listrik di seluruh dunia mencatatkan pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan prediksi sebelumnya. Dikutip dari Detikcom, volume penjualan mobil ramah lingkungan ini telah melonjak hingga sepuluh kali lipat hanya dalam jangka waktu enam tahun. Pada tahun 2025, akumulasi penjualan mobil listrik secara global berhasil menyentuh angka sekitar 21 juta unit.

Perbandingan data menunjukkan lompatan besar dari pangsa pasar yang hanya 1 persen pada 2019 menjadi 25 persen di tahun 2025. Secara keseluruhan, sekitar 85 juta unit dari total 1,4 miliar mobil yang beroperasi di seluruh dunia kini telah bertenaga listrik. Lonjakan adopsi ini didominasi oleh perkembangan masif di sejumlah wilayah utama.

Cina saat ini menjadi motor penggerak utama dalam ekosistem mobilitas listrik global. Negara ini telah menginvestasikan dana besar selama bertahun-tahun untuk mengembangkan teknologi energi surya, angin, hingga komponen baterai.

Langkah riset mendalam dan implementasi produksi massal berhasil memangkas harga baterai secara signifikan. Komponen vital ini sekarang dipasarkan dengan harga hanya seperempat dari nilai jual satu dekade lalu. Dampaknya, harga jual mobil listrik di Cina menjadi lebih murah daripada kendaraan bermesin diesel atau bensin sejak 2024. Pemerintah setempat juga gencar membangun infrastruktur pengisian daya serta menyediakan tarif listrik terjangkau.

Pangsa pasar kendaraan listrik dalam penjualan mobil baru di Cina meroket drastis. Dari yang semula hanya satu persen pada 2015, angkanya melesat hingga mencapai 63 persen pada Mei 2026.

Kategori Teknologi Penggerak Listrik dan Hibrida

Selain model yang beroperasi penuh menggunakan listrik, pasar juga diramaikan oleh variasi mobil hibrida. Teknologi ini memadukan keunggulan mesin berbahan bakar bensin dengan sistem penggerak listrik. Jenis pertama adalah Battery Electric Vehicles atau BEV yang mendominasi dua pertiga populasi mobil listrik dunia.

Model ini bergerak murni mengandalkan daya listrik dalam baterai yang diisi ulang melalui kabel. Kategori kedua adalah Plug-in Hybrid atau PHEV yang mencakup sepertiga dari total kendaraan listrik. Varian ini mengombinasikan motor listrik dan mesin bensin yang sama-sama bisa menggerakkan roda secara langsung.

Pilihan lainnya berupa Extended Range Electric Vehicles atau EREV yang roda kendaraannya digerakkan oleh motor listrik. Mesin pembakaran internal di dalamnya hanya berfungsi sebagai generator untuk mengisi daya saat baterai habis.

Pertumbuhan di Uni Eropa dan Stagnasi Pasar Amerika Serikat

Eksistensi mobil listrik di Uni Eropa juga memperlihatkan tren positif yang sangat kuat. Pada April 2026, hampir satu dari tiga unit mobil baru yang terdaftar di kawasan tersebut merupakan kendaraan listrik. Kawasan Eropa Utara memimpin penetrasi ini dengan Norwegia mencatatkan persentase hampir seluruh mobil baru bertenaga listrik sebesar 99 persen.

Denmark mengikuti dengan perolehan 82 persen dan Swedia mencapai 65 persen. Sementara di Inggris, proporsi mobil penumpang baru pada Mei 2026 menyentuh 40 persen, disusul Jerman 37 persen, dan Prancis 34 persen. Penjualan di ketiga negara ini tumbuh sekitar 30 persen.

Kondisi kontras terjadi di Amerika Serikat yang pasarnya mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir. Pangsa pasar yang sempat berada di angka 10 persen turun di bawah 6 persen pada April 2026 akibat berakhirnya insentif pajak.

Meskipun demikian, produk Model Y dan Model 3 milik perusahaan Tesla asal Amerika Serikat tetap menjadi mobil listrik terlaris di dunia. Di tingkat global, Cina memproduksi 71 persen kendaraan listrik, diikuti Eropa 17 persen, dan AS 5 persen.

Ekspansi di Asia, Amerika Latin, dan Pelopor di Afrika

Berdasarkan peringkat dari Badan Energi Internasional atau IEA, beberapa negara Asia mencatatkan kemajuan adopsi yang signifikan. Nepal memimpin dengan 68 persen pada 2025, disusul Singapura 63 persen, Vietnam 41 persen, dan Thailand 23 persen. Wilayah Amerika Latin turut mencatatkan pertumbuhan volume penjualan hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu dua tahun. Uruguay memimpin dengan pangsa pasar 31 persen pada kuartal pertama 2026, diikuti Kosta Rika 16 persen.

Di benua Afrika, Etiopia muncul sebagai pelopor utama yang mengadopsi kendaraan listrik secara agresif. Negara ini menerapkan kebijakan ekstrem sejak 2024 dengan melarang impor mobil baru maupun bekas yang menggunakan mesin pembakaran internal. Populasi mobil listrik di Etiopia kini melesat hampir empat kali lipat hingga melewati angka 100.000 unit. Memanfaatkan 96 persen pasokan listrik dari tenaga air membuat biaya operasional mobil listrik delapan kali lebih murah.

Proyeksi Harga, Efisiensi Energi, dan Dampak geopolitik

Hingga tahun 2025, harga mobil listrik di luar Cina terpantau masih lebih mahal dibandingkan mobil konvensional. Selisih harga tersebut mencapai 27 persen di Amerika Serikat dan 19 persen di wilayah Jerman.

Namun, tren penurunan harga berjalan sangat cepat seiring kehadiran subsidi dan model murah di Eropa. Di Cina, unit mobil listrik baru bahkan sudah bisa dibeli dengan harga di bawah 10.000 euro. Kemajuan teknologi juga mendongkrak efisiensi berkendara secara drastis.

Motor listrik mampu mengubah 80 persen energi langsung menjadi daya kinetik, berbanding terbalik dengan mesin bensin yang membuang 80 persen energi sebagai panas. Mobil listrik rata-rata hanya mengonsumsi energi sebesar 15 kilowatt-jam per 100 kilometer. Jumlah ini jauh lebih hemat dibandingkan mobil berbahan bakar fosil yang memerlukan energi setara 50 kilowatt-jam.

Faktor eksternal seperti tingginya harga minyak akibat konflik di Iran turut mempercepat peralihan ini. IEA memproyeksikan penjualan mobil listrik global akan mencapai 23 juta unit atau hampir 30 persen dari total mobil baru pada tahun 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author