Mengenal Sejarah Kerak Telor Kuliner Khas Betawi yang Populer

Share

Perayaan Hari Ulang Tahun Kota Jakarta selalu identik dengan kehadiran kuliner tradisional yang kaya akan nilai sejarah. Salah satu hidangan legendaris yang paling diburu oleh masyarakat adalah kerak telor. Jajanan khas ini menawarkan perpaduan rasa gurih, asin, dan sedikit manis yang unik.

Kudapan ini terbuat dari ketan putih, telur ayam atau bebek, ebi, kelapa sangrai, serta taburan bawang goreng. Di balik kelezatannya, hidangan ini menyimpan cerita perjalanan panjang sejak zaman kolonial. Sejarah dan fakta menarik mengenai kuliner ikonik ini patut untuk ditelusuri lebih dalam.

Kuliner khas Betawi ini diyakini mulai berkembang pada era penjajahan Belanda saat Batavia menjadi pusat perdagangan. Kemunculannya berawal dari sebuah eksperimen yang tidak disengaja.

Masyarakat Betawi di kawasan Menteng mencoba membuat alternatif makanan yang menyerupai omelet mi kegemaran orang Belanda, namun dengan versi yang lebih sehat. Informasi ini turut dilansir dari senibudayabetawi.com pada 27 Oktober 2023. Pada masa itu, telur termasuk bahan makanan mewah yang tidak dapat dijangkau oleh semua kalangan. Oleh karena itu, masyarakat meng kombinasikannya dengan beras ketan dan memanfaatkan buah kelapa yang saat itu ketersediaannya sangat melimpah.

Mempertahankan Teknik Memasak Tradisional

Keunikan hidangan ini tidak hanya terletak pada bahan dasarnya, tetapi juga pada proses pembuatannya. Beras ketan yang menjadi bahan utama harus direndam selama satu malam penuh agar teksturnya melunak tanpa perlu dikukus terlebih dahulu.

Para pedagang memasak hidangan ini menggunakan anglo atau tungku kecil dengan bahan bakar arang dari batok kelapa atau kayu rambutan. Penggunaan arang tradisional ini mampu menghasilkan kontrol panas yang stabil sekaligus memberikan aroma panggangan alami yang khas.

Cara mematangkan telur juga sangat unik, yaitu dengan membalikkan wajan langsung di atas bara api. Teknik memasak ini merupakan warisan turun-temurun dari masyarakat Betawi kampung yang tidak terbiasa menggunakan kompor modern.

Dari Hidangan Adat Menjadi Ikon Kuliner Jakarta

Pada masa lalu, kudapan ini tidak dijual secara bebas seperti sekarang. Hidangan ini tergolong istimewa dan hanya disajikan pada momen tertentu seperti upacara syukuran, hajatan, atau acara komunitas lokal.

Penggunaan telur bebek dan kelapa sangrai membuat makanan ini dianggap sebagai hidangan mewah untuk menyambut tamu. Hal tersebut sekaligus merepresentasikan karakter masyarakat Betawi yang dikenal sangat ramah dalam menjamu kunjungan.

Memasuki tahun 1970-an, para penjual mulai menjajakan makanan ini secara luas di sekitar Tugu Monumen Nasional. Popularitasnya semakin melejit setelah rutin hadir dalam gelaran Pekan Raya Jakarta sejak tahun 1968 hingga sekarang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author