IMIP Kaji Dampak Pemangkasan Kuota Produksi Nikel 2026

Share

PT Industrial Morowali Park (IMIP) masih mengobservasi dan mengkaji dampak pemangkasan kuota produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 terhadap produksi smelter di kawasan industri, dilansir dari Bloomberg Technoz.

Media Relations Head IMIP Dedy Kurniawan mengungkapkan perseroan mengamini pemangkasan RKAB nikel menciptakan tantangan bagi industri hilir nikel di Tanah Air.

Kendati begitu, Dedy mengaku perseroan masih belum dapat mendata potensi penurunan produksi dari smelter di kawasan IMIP sebab masing-masing perusahaan memiliki dinamika bisnisnya masing-masing.

"Setiap perusahaan atau tenant di kawasan IMIP memiliki dinamika bisnis masing-masing, sehingga sulit untuk menggeneralisasi dampak di level kawasan industri. Untuk itu, saat ini kami tengah dalam tahap observasi dan assessment," kata Dedy.

"Kami juga terus memantau situasi dan memfasilitasi diskusi untuk strategi adaptasi bersama tenant-tenant di kawasan IMIP," lanjutnya.

Produksi smelter pirometalurgi bertechnologi rotary kiln electric furnace (RKEF) yang menghasilkan nickel pig iron (NPI) di Indonesia Wedabay Industrial Park (IWIP) sebelumnya dilaporkan sudah turun hingga 15% akibat kendala suplai.

Berdasarkan catatan Shanghai Metals Market (SMM), produksi NPI berkadar tinggi di kawasan IWIP turun sebesar 10%—15% gegara beberapa lini produksi smelter RKEF diberhentikan sementara untuk pemeliharaan akibat kekurangan bijih dan tingginya biaya operasional.

"Fasilitas di Weda Bay yang berada di kawasan industri IWIP mengumumkan produksi NPI berkualitas tinggi akan dikurangi sebesar 10%—15% dalam beberapa bulan mendatang," sebagaimana tertulis dalam catatan SMM.

"Dengan beberapa jalur produksi telah menjalani masa penghentian operasional untuk pemeliharaan sejak Maret akibat kelangkaan bijih dan kenaikan biaya operasional," tulis SMM.

Sebelum itu, IWIP dikabarkan meminta sejumlah produsen NPI di kawasannya untuk mengurangi produksi pada Juni agar pasokan listrik smelter aluminium di IWIP dapat terpenuhi.

Analis Nikel dan Stainless Steel SMM Bruce Chew mencatat produksi NPI di IWIP stabil di sekitar 40.000 ton kandungan nikel per bulan.

Dengan demikian, jika produksi NPI di IWIP turun sekitar 15%, terdapat penurunan produksi NPI sebesar 6.000 ton kandungan nikel per bulan.

"Secara tersendiri, volume ini kemungkinan tidak cukup untuk mengubah pasar nikel global keluar dari kondisi surplus, tetapi dapat memberikan dukungan langsung terhadap impor NPI ke China, sentimen pembelian pabrik, dan premi untuk NPI kadar tinggi," tulis Chew.

Struktur Klaster dan Prediksi Defisit Bijih

Sentra nikel IMIP memiliki tiga klaster industri utama, di antaranya klaster stainless steel, klaster carbon steel, dan klaster komponen baterai listrik.

Klaster stainless steel memproses bijih nikel menjadi NPI hingga baja nirkarat. Klaster carbon steel memproduksi baja karbon dengan kapasitas produksi mencapai 7 juta metrik ton per tahun.

Berikutnya, klaster baterai kendaraan listrik dibangun untuk mendukung program energi bersih dan terbarukan yang digagas oleh pemerintah.

Sebelumnya, Eramet Indonesia mengungkapkan smelter nikel di IWIP berpotensi kekurangan bijih nikel sekitar 30 juta ton jika revisi RKAB 2026 PT Weda Bay Nickel (WBN) tidak disetujui.

CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet menjelaskan konsumsi bijih nikel untuk smelter nikel di kawasan IWIP pada 2025 mencapai 120 juta ton. Dari besaran itu, pada tahun lalu WBN memasok sekitar 42 juta ton bijih nikel.

Lantaran produksi WBN periode 2026 yang hanya disetujui 12 juta ton dan sudah habis, Baudelet memprediksi smelter nikel di kawasan IWIP bakal kekurangan bijih nikel hingga 30 juta ton.

"Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan, maka Anda akan mengalami defisit 30 juta ton dari Weda Bay Nickel," kata Baudelet.

Baudelet mengungkapkan, jika skenario tersebut terjadi, maka smelter nikel di kawasan IWIP harus mencari bijih dari wilayah lain seperti Pulau Sulawesi atau mengimpor dari Filipina.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: ekonomi imip nikel rkab smelter
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author