Kisah Kegigihan Kakek Poon Sum Hay Bikin Sachima Tradisional Tanpa Jari
Kegigihan dalam merawat warisan kuliner ditunjukkan oleh seorang pria lanjut usia di Singapura. Dilansir dari Detik Food, seorang kakek berusia 70 tahun bernama Poon Sum Hay tetap aktif memproduksi camilan tradisional sachima dengan tangan kirinya yang tidak memiliki jari sejak lahir.
Kondisi fisik tersebut tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk terus bekerja. Perjuangan hidupnya semakin mengundang rasa haru setelah dirinya diketahui baru saja menyelesaikan pengobatan untuk penyakit kanker usus besar.
Informasi mengenai kondisi kesehatan tersebut sempat diberitakan oleh Weird Kaya (21/7). Poon Sum Hay telah mengelola usaha keluarga bernama Pan Ji Cooked Food selama lebih dari setengah abad.
Kedai tersebut dikenal konsisten menyajikan sachima, yaitu kudapan tradisional yang terbuat dari adonan tepung goreng kemudian direkatkan menggunakan sirup gula. Poon Sum Hay menguasai keterampilan membuat sachima sejak berumur 12 tahun melalui bimbingan langsung dari ayahnya.
Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu dari sedikit pembuat sachima yang masih bertahan menggunakan metode manual di Singapura. Rutinitas hariannya dimulai sejak pukul 06.00 pagi untuk memastikan produk yang dijual selalu dalam keadaan segar.
Seluruh proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar delapan jam. Tahapan tersebut meliputi pengulenan adonan, penipisan, pemotongan, penggorengan, hingga proses pencampuran dengan sirup gula.
Poon Sum Hay memegang teguh prinsip bahwa kualitas sachima tidak dapat dihasilkan melalui proses yang instan.
"Kamu tidak bisa mengambil jalan pentas. Kalau dilakukan begitu, hasilnya akan benar-benar berbeda," ujarnya.
Perjalanan usahanya sempat diuji pada Desember 2024 ketika ia mengalami masalah pencernaan. Setelah melalui pemeriksaan medis di rumah sakit, tim dokter mendiagnosisnya mengidap kanker usus besar.
Ia harus menjalani operasi pengangkatan sebagian usus besar serta menjalani perawatan intensif selama 8 hari di rumah sakit. Proses pemulihan tersebut juga mengharuskannya mengikuti 16 kali sesi kemoterapi.
Akibat dari kondisi kesehatan ini, lapak dagangannya terpaksa ditutup sementara waktu. Namun, masa istirahat yang jauh dari aktivitas membuat sachima justru memunculkan rasa kehilangan yang mendalam bagi dirinya.
Kembali Membuka Kedai Tanpa Memikirkan Penerus
Setelah beristirahat selama enam bulan, Poon Sum Hay memutuskan untuk kembali mengoperasikan usahanya pada Agustus 2025. Rasa rindu terhadap pekerjaan yang telah ditekuni selama puluhan tahun menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut.
Bagi Poon Sum Hay, faktor paling utama dalam memproduksi sachima bukanlah kemampuan teknis semata, melainkan ketulusan hati.
"Semua tergantung seberapa besar usaha yang diberikan seseorang. Jika tidak punya passion dan ketulusan, hasilnya tidak akan enak," katanya.
Mengenai kelanjutan bisnis keluarga ini, ia mengaku tidak terlalu ambil pusing karena tidak memiliki anak yang akan meneruskan usaha tersebut.
"Kalau ada penerus ya ada. Kalau tidak ada, ya tidak ada," ujarnya.
Hingga saat ini, para pelanggan setia tetap memadati kedainya meskipun terjadi penyesuaian harga. Berdasarkan keterangan dari kekasihnya yang telah mendampingi selama 10 tahun, beberapa pembeli bahkan rela datang jauh-jauh dari Ipoh, Malaysia, hingga Hong Kong demi mendapatkan sachima buatannya.