IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.099 pada Jeda Sesi I

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada jeda Sesi I perdagangan Senin (22/6/2026). Padahal, indeks sempat bergerak menguat pada awal perdagangan pagi hari.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, IHSG terkoreksi 1,25% poin dibandingkan dengan posisi akhir pekan lalu. Hal ini membuat indeks menempati level 6.099 pada siang ini.

Nilai transaksi perdagangan hingga siang ini telah menyentuh Rp7,62 triliun. Total volume saham yang ditransaksikan mencapai 13,42 miliar saham dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 1,1 juta kali.

Kondisi pasar menunjukkan sebanyak 476 saham mengalami penurunan harga. Sementara itu, terdapat 200 saham yang bergerak menguat dan 135 saham lainnya cenderung stagnan.

Sektor kesehatan, perindustrian, dan konsumen non primer menjadi penekan utama laju indeks. Ketiga sektor tersebut masing-masing melemah sebesar 2,57%, 2,08%, dan 1,99%.

Sejumlah emiten yang masuk dalam jajaran top losers meliputi PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) yang merosot 12,64%. Selain itu, PT Bank INA Tbk (BINA) anjlok 11,11% dan PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) menyusut 10,47%.

Pelemahan ini juga sejalan dengan kondisi di tingkat Asia. Indeks PSEI (Filipina), KOSDAQ (Korea Selatan), Hang Seng (Hong Kong), Straits Times (Singapura), dan KLCI (Malaysia) kompak tertekan.

Masing-masing indeks di kawasan tersebut mengalami koreksi sebesar 1,35%, 0,72%, 0,43%, 26%, dan 0,21%.

Meski demikian, beberapa indeks lain di Asia terpantau menguat. TW Weighted Index (Taiwan) melesat 2,84%, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) naik 1,77%, dan NIKKEI 225 (Tokyo) tumbuh 1,76%.

Peningkatan juga terjadi pada CSI 300 (China) sebesar 1,55%, Topix (Jepang) 1,35%, Shanghai Composite (China) 0,8%, SENSEX (India) 0,66%, KOSPI (Korea Selatan) 0,41%, SETI (Thailand) 0,21%, dan Shenzhen Comp. (China) 0,13%.

Dampak Konflik Geopolitik AS-Iran

Tekanan pada IHSG dan sebagian bursa Asia dipicu oleh berkurangnya optimisme pasar. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan kembali meningkat setelah sempat mereda.

Panin Sekuritas memaparkan bahwa memanasnya situasi di Timur Tengah berujung pada penutupan kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini menjadi berisiko tinggi bagi kapal yang melintas.

"Iran menyatakan bahwa kapal tidak akan melewati Selat Hormuz jika tidak mendapatkan izin dan setiap kapal harus membayar asuransi," terang Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya.

Situasi tersebut mendorong para pelaku pasar untuk kembali mengamankan aset mereka. Investor cenderung beralih memburu aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas emas.

Dalam dengar pendapat dengan Fox News, Presiden AS Donald Trump mengaku telah memberi peringatan langsung kepada pemimpin Iran. Jika Selat Hormuz ditutup, Trump menyampaikan konsekuensi berat dengan menggunakan kata-kata kasar.

"kalian bahkan tidak akan mendapatkannya kembali" kata Donald Trump.

Ketegangan di Timur Tengah ini telah mengganggu pasokan minyak dari wilayah yang menyumbang sepertiga produksi dunia. Dampaknya, harga minyak dunia saat ini terpantau masih bertahan di atas level sebelum perang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author