IHSG Anjlok 1,91 Persen Imbas Pelemahan Saham Big Caps dan Sentimen Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pembalikan arah hingga tergelincir ke zona merah pada perdagangan hari Senin (22/6/2026). Merujuk data bursa, indeks ditutup melemah sebesar 1,91% dan tertahan di level 6.059.
Koreksi dalam ini dipicu oleh rontoknya sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps). Pergerakan indeks sepanjang hari bergerak pada rentang 6.226 hingga menyentuh titik terendah di posisi 6.052 menjelang jeda siang.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, penurunan performa pasar modal domestik ini dipengaruhi oleh keraguan investor terhadap prospek perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelaku pasar menilai komitmen stabilitas tersebut masih rawan goyah.
Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa AS menegaskan pemberian insentif ekonomi bagi Iran sepenuhnya bergantung pada kepatuhan negara tersebut. Faktor ini membuat pelaku pasar bersikap lebih hati-hati.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi harian menyentuh Rp6,5 triliun. Angka tersebut diperoleh dari perdagangan 11,58 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi mencapai 926 ribu kali.
Kondisi pasar secara umum didominasi oleh koreksi massal. Tercatat hanya ada 177 saham yang bergerak menguat, sementara 495 saham mengalami penurunan, dan 138 saham lainnya stagnan.
Sektor perindustrian, konsumen non-primer, dan keuangan menjadi beban terberat pasar. Masing-masing sektor tersebut melorot tajam sebesar 2,31%, 2,17%, dan 2,11% selama perdagangan berlangsung.
Kejatuhan indeks dipicu langsung oleh koreksi pada saham-saham utama. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpangkas 2%, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 2%, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) anjlok 3,69%.
Phillip Sekuritas Indonesia memaparkan bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasar. Padahal, delegasi dari kedua negara tengah melakukan dialog intensif di Swiss.
Sentimen investor sempat terganggu akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai potensi opsi militer tambahan. Langkah itu disiapkan jika Iran gagal meredam aktivitas kelompok Hizbullah di Libanon.
Peringatan tersebut mengemuka di tengah upaya diplomasi yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance bersama utusan Iran di Swiss. Proses negosiasi untuk mencapai kesepakatan permanen dijadwalkan terus berjalan.
Proses negosiasi ini telah bergulir sejak Minggu, melanjutkan kesepakatan awal pekan lalu yang menargetkan peta jalan damai dalam jangka waktu 60 hari.
Guna mencegah eskalasi di jalur logistik vital, kedua belah pihak sepakat membuka saluran komunikasi langsung. Langkah ini bertujuan mengamankan pelayaran kapal niaga internasional di Selat Hormuz.
"Pasar melihat kesepakatan Iran ini masih rapuh, tetapi belum cukup rapuh untuk memicu penilaian ulang secara agresif terhadap risiko geopolitik pada tahap ini," papar Dilin Wu, analis strategi dari Pepperstone Group, dalam dengar pendapat di Bloomberg Television.
Pertemuan tingkat tinggi di Bürgenstock ini terlaksana setelah Trump menandatangani nota kesepahaman deeskalasi pekan lalu. Seorang pejabat anonim menyebut keberhasilan perundingan akan sangat ditentukan oleh penyelesaian konflik di Libanon.