Kualitas Udara Jakarta Memburuk Jadi yang Terburuk di Dunia
Kualitas udara di Jakarta dilaporkan masuk dalam kategori tidak sehat pada Rabu (17/6/2026) pagi. Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta mencapai angka 162.
Konsentrasi partikel halus particulate matter (PM) 2.5 di Jakarta tercatat menyentuh 71,0 mikrogram per meter kubik. Angka kandungan ini menunjukkan kadar polusi sudah 14,2 kali lipat dari nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Data dari IQAir tersebut menempatkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pagi ini. Posisi kedua ditempati Lahore di Pakistan dengan AQI 244, disusul Santiago de Chile di Chili dengan AQI 165, dan Kinhasa di Kongo dengan AQI 158.
Polusi PM 2.5 merupakan partikel halus berdiameter kurang dari 2,5 mikron atau setara 1/25 diameter rambut manusia. Kepadatan partikel ini dapat kasat mata menyerupai kabut atau asap tebal.
Kondisi PM 2.5 yang buruk di Jakarta berisiko tinggi terhadap kesehatan masyarakat. Ancaman ini terutama mengintai anak-anak, lanjut usia (lansia), serta penderita gangguan pernapasan dan kardiovaskular.
Masyarakat disarankan membatasi aktivitas outdoor, menutup jendela rumah, memakai masker saat keluar ruangan, dan mengoperasikan alat penyaring udara demi menghindari dampak buruk polusi.
Paparan partikel halus PM 2.5 dalam jangka panjang dapat memicu kerusakan sistemik pada berbagai organ tubuh manusia. Seperti dilansir dari Detik Health, partikel berukuran mikro ini mampu menembus sistem pertahanan tubuh dengan mudah.
Sistem Pernapasan dan Jantung
Pada saluran napas, PM 2.5 memicu peradangan, memperburuk asma atau alergi, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis. Dikutip dari laman Bangkok Hospital, risiko kanker paru-paru jenis adenokarsinoma bahkan dapat melonjak dua kali lipat pada perokok.
Partikel ini juga bisa menembus pembuluh darah dan saraf hidung, memicu peradangan saraf, merusak sel otak, memperparah migrain, hingga mempercepat demensia seperti Alzheimer dan Parkinson. Di jantung, partikel kecil ini memicu pembentukan bekuan darah yang meningkatkan risiko oklusi vaskular.
Kerusakan Kulit dan Mata
PM 2.5 yang masuk melalui pori-pori kulit dapat merusak fungsi sel, memicu ruam, gatal, memperparah eksim, serta mempercepat penuaan dini. Selain itu, lapisan air mata dapat rusak dan memicu konjungtivitis hingga gangguan penglihatan.
Gejala awal tubuh yang terpapar polusi PM 2.5 dosis tinggi meliputi batuk, pilek, bersin, iritasi hidung, dan sesak napas. Pada area mata dan kulit, gejala ditandai dengan rasa perih, mata berair, gatal-gatal, serta munculnya ruam merah.