Pengendara Motor Nekat Terobos Jembatan Rel Kereta Petamburan

Share

Aksi nekat sejumlah pengendara sepeda motor, termasuk ojek online, yang menerobos jembatan rel kereta api di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, menjadi viral setelah terekam dalam sebuah video. Padahal, infrastruktur tersebut bukan diperuntukkan bagi pelintasan kendaraan roda dua.

Kondisi di lokasi pada Selasa (16/6/2026) menunjukkan jembatan tersebut berada tepat di dekat Pintu Air Karet, dengan jalur kereta yang terpisah menjadi dua jembatan, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Area di sisi barat merupakan Pasar Pintu Air Petamburan, sedangkan sisi sebaliknya mengarah ke Stasiun Tanah Abang yang hanya menyisakan celah kecil untuk pejalan kaki.

Pelintasan menuju Stasiun Tanah Abang tidak memiliki palang pintu otomatis dan hanya bisa dilalui satu motor, sehingga seorang warga harus berjaga secara manual untuk mengatur lalu lintas. Sebaliknya, pelintasan di sisi Pasar Pintu Air Petamburan sudah dilengkapi palang pintu otomatis yang aktif saat kereta akan melintas.

Seorang penjaga pelintasan setempat, Aji, mengungkapkan bahwa pengendara sepeda motor, terutama warga lokal, kerap mengabaikan aspek keselamatan dan sulit untuk diperingatkan saat melintas di sana.

"Sering, kadang nggak ada omongan masuk-masuk aja, makanya kita omongin. Kalau mau masuk mah bilang dulu 'kereta udah lewat belum, gitu' kadang maen slanang slonong aja," ujar Aji.

Situasi tersebut membuat para penjaga merasa khawatir karena jalur kereta dari arah Stasiun Tanah Abang memiliki kontur berkelok yang membatasi pandangan visual. Tikungan tersebut membuat kedatangan kereta baru bisa terlihat saat jaraknya sudah sangat dekat dengan jembatan.

"Iya, kita yang jadi kerepotan. Kalau ketabrak, kita-kita juga yang kena. Ntar kita dulu yang dibawa (kalau diperiksa)," ungkap Aji.

Seorang warga sekitar bernama Sandi menambahkan bahwa para pelanggar yang menerobos area terlarang tersebut biasanya berdalih sedang berada dalam kondisi mendesak.

"Tergantung, paling orang yang mendesak sajalah yang buru-buru, orang daerah seberang," ujar Sandi.

Meskipun tindakan tersebut berbahaya, Sandi menyebutkan bahwa jumlah pengendara yang nekat melintas terhitung relatif sedikit setiap harinya karena sebagian besar masyarakat tetap merasa takut.

"Yang lewat nggak tentu, paling satu atau dualah. Nggak (banyak sekaligus), mungkin orang juga lewat sini takut," sambung Sandi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author