Harga Minyak Dunia Stabil Pasca Kesepakatan AS dan Iran Buka Selat Hormuz

Share

Harga minyak dunia berhasil mempertahankan posisinya setelah sempat mengalami penurunan terdalam dalam dua pekan terakhir pada perdagangan Senin (15/6). Tren stabilisasi ini terjadi menyusul adanya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Langkah tersebut dinilai sukses meredakan kecemasan pasar terhadap pasokan energi sekaligus memicu reli positif di bursa saham global, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Di perdagangan lini hari, harga minyak mentah AS terpantau kokoh di kisaran US$81 per barel yang ikut meringankan kekhawatiran atas lonjakan inflasi. Sementara itu, pergerakan kontrak berjangka di sektor pasar modal mengindikasikan adanya variasi pembukaan untuk indeks acuan di Hong Kong dan Sydney. Sebaliknya, bursa saham Tokyo diproyeksikan menguat menjelang pengumuman keputusan bank sentral Jepang pada Selasa (16/6).

Pergerakan kontrak berjangka di bursa AS tidak banyak berubah setelah indeks S&P 500 sebelumnya melesat 1,7% dan indeks Nasdaq 100 melonjak hingga 3,1%. Perkembangan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance menandatangani salinan elektronik nota kesepahaman (MoU) dengan pihak Iran.

"Selat Hormuz saat ini sudah dibuka sebagian, dan akan dibuka sepenuhnya pada hari Jumat nanti," tutur Trump dalam pertemuannya dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Kondisi geopolitik yang mereda ini langsung mendapat respons positif dari sejumlah analis pasar finansial global. Redanya ketegangan tersebut diharapkan bisa menekan volatilitas tinggi yang sempat membayangi pergerakan modal selama konflik berlangsung.

“Kesepakatan antara AS dan Iran ini merupakan sebuah terobosan besar dan menjadi sentimen positif bagi pasar. Sebab, proses negosiasi yang tarik-ulur selama ini hanya menimbulkan ketidakpastian tambahan dan volatilitas tinggi,” ujar Michael Landsberg dari Landsberg Bennett Private Wealth Management.

Meskipun membawa dampak positif terhadap penurunan harga minyak, perjanjian ini dinilai masih menyimpan potensi risiko baru. Hubungan kedua belah pihak diprediksi bisa kembali merenggang, terutama terkait pembersihan material nuklir Iran.

“Volatilitas mungkin masih akan bertahan dalam jangka pendek seiring pasar mengevaluasi implementasi dan daya tahan dari kesepakatan ini. Tetapi kami tetap pada pandangan kami bahwa pertumbuhan yang tangguh serta pendapatan korporasi yang kuat akan terus mendorong pasar saham bergerak lebih tinggi,” kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Chief Investment Office.

Di sisi lain, tim strategi Morgan Stanley melihat bursa saham AS berpeluang mendapatkan dorongan dari rotasi modal ke sektor-sektor sensitif ekonomi yang sempat tertinggal. Pergeseran ke saham siklikal diproyeksikan menjadi strategi menguntungkan hingga akhir tahun jika inflasi dan pendapatan korporasi tetap stabil.

“Kami percaya meredanya ketegangan geopolitik dapat membantu mengurangi tekanan inflasi dan menurunkan imbal hasil (yield) obligasi. Hal ini berpotensi mendorong rotasi modal ke sektor siklikal dan area pasar yang sebelumnya sempat tertinggal,” ungkap Angelo Kourkafas dari Edward Jones.

Dari pasar Asia, mata uang yen Jepang bergerak melemah tipis menjelang rapat Bank Sentral Jepang (BOJ) yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi sejak 1995. Sementara itu, Bank Sentral Australia diproyeksikan tetap menahan suku bunga acuan mereka.

Merosotnya harga minyak juga membuat pelaku pasar swap menurunkan perkiraan bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. The Fed dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneter terbaru pada Rabu (17/6) dan diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author