Harga Minyak Dunia Tertahan Setelah Penurunan Terdalam Dua Pekan
Pasar komoditas global mencatat harga minyak dunia tertahan pada posisi penurunan terdalam dalam lebih dari dua pekan terakhir seiring sikap pelaku pasar yang menanti rincian resmi kesepakatan Amerika Serikat dan Iran pada Selasa (16/6).
Kesepakatan sementara tersebut diproyeksikan bakal membuka kembali Selat Hormuz secara penuh, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$81 per barel setelah anjlok hampir 5% pada Senin (15/6), sedangkan Brent ditutup di kisaran US$83 per barel.
Rencana penandatanganan nota kesepahaman dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat mendatang, meski kedua negara belum merilis teks resmi perjanjian tersebut.
Presiden AS Donald Trump memberikan konfirmasi mengenai rencana pembukaan kembali jalur pelayaran logistik strategis tersebut.
"Saat ini kami sudah memiliki banyak jalur yang beroperasi," kata Trump, Presiden AS.
Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan wartawan saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-7 di Prancis.
"Selat itu akan terbuka dan bebas biaya," kata Trump, Presiden AS.
Kendati ada pernyataan optimistis, minimnya rincian formal membuat para pejabat energi di Teluk Persia serta eksekutif pelayaran tetap berhati-hati sebelum mengirimkan kembali armada mereka.
Penurunan harga ini turut meredakan tekanan inflasi saat Federal Reserve mengevaluasi kebijakan suku bunga, meskipun tantangan logistik pascablokade masih membayang.
Analis Raymond James, Pavel Molchanov memberikan proyeksi mengenai lini masa pemulihan pasokan energi global tersebut.
"Waktu paling cepat bagi pasokan minyak untuk kembali ke level sebelum perang adalah akhir Juli," kata Pavel Molchanov, analis Raymond James.
Molchanov menilai industri minyak masih harus menyelesaikan berbagai kendala logistik sebelum pasokan dapat kembali normal.
Berdasarkan data perusahaan intelijen pasar Kpler, saat ini terdapat hampir 300 kapal bermuatan yang mengantre untuk keluar dari Teluk Persia, dan jumlah kapal kosong yang serupa sedang menunggu masuk.
Analis utama riset Enverus, Kyle Bertimini menilai pemulihan arus minyak tidak akan terjadi secara instan.
"Kami tidak benar-benar berpikir situasinya akan seperti membuka keran lalu semuanya kembali normal dalam beberapa minggu atau satu bulan," kata Kyle Bertimini, analis utama riset Enverus.
"Prosesnya akan memakan waktu lebih lama dari itu," kata Kyle Bertimini, analis utama riset Enverus.
Blokade ganda oleh Iran dan AS di Selat Hormuz sebelumnya telah menguras cadangan komersial serta strategis global, bahkan cadangan darurat minyak mentah AS kini menyusut ke level terendah sejak 1983.