Ahli Sarankan Aturan Parenting 5:1 untuk Bangun Hubungan Sehat
Pendekatan pola asuh melalui aturan parenting 5:1 kini disarankan oleh para ahli psikologi sebagai panduan efektif untuk membangun hubungan yang sehat serta hangat antara orang tua dan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Penerapan metode ini dinilai mampu mengatasi berbagai tantangan pengasuhan seperti mengatasi tantrum hingga meredakan pertengkaran antar saudara kandung, sebagaimana dilansir dari HaiBunda pada Senin (15/6/2026).
Kepala Divisi Psikologi di Phoenix Children's, Carla C. Allan menjelaskan bahwa konsistensi orang tua dalam menerapkan aturan ini memberikan dampak positif yang besar terhadap perkembangan psikologis keluarga.
"Aturan parenting 5:1 adalah pedoman untuk membangun hubungan yang sehat," ungkap Allan dikutip dari laman Parents.
Allan menambahkan bahwa metode tersebut melatih pengelolaan emosi yang baik di dalam lingkungan rumah.
"Ketika orang tua menerapkan aturan parenting 5:1 secara konsisten, mereka memberikan contoh pengaturan emosi, mengurangi stres keluarga, serta membantu membangun kepercayaan dan ketahanan pada anak-anak mereka," kata Allan.
Konsep pengasuhan ini mengadaptasi hasil penelitian psikolog asal Amerika Serikat, John Gottman, PhD, mengenai hubungan pernikahan, yang menunjukkan bahwa ikatan emosional yang langgeng memiliki rasio lima interaksi positif untuk setiap satu interaksi negatif.
Pendiri Practice San Francisco, Nina Kaiser mengibaratkan hubungan emosional bersama anak layaknya sebuah tabungan bank yang membutuhkan investasi secara berkala.
"Kita perlu memikirkan hubungan kita dengan anak-anak kita seperti rekening bank, di mana kita perlu melakukan setoran secara konsisten untuk menjaga hubungan yang kuat agar memiliki ruang lebih saat kita perlu melakukan penarikan atau koreksi," ujar Kaiser.
Kaiser menyatakan bahwa kenyamanan emosional mendorong seseorang untuk menunjukkan potensi terbaik mereka.
"Kita semua cenderung berkinerja terbaik ketika kita merasa terhubung dan dihargai oleh orang-orang yang bertanggung jawab. Ini berlaku untuk kita sebagai orang dewasa, dan juga berlaku untuk anak-anak kita," jelasnya.
Orang tua diimbau untuk lebih peka dalam mengapresiasi kebaikan anak karena kecenderungan umum yang terjadi adalah orang tua lebih mudah mengoreksi kesalahan daripada memuji perilaku positif.
"Sangat mudah bagi kita untuk melihat dan mengomentari hal-hal yang salah atau di mana hal-hal perlu diubah atau diperbaiki, dan jauh lebih sulit untuk memperhatikan hal-hal yang berjalan dengan baik atau bahwa anak-anak kita melakukannya dengan baik," katanya.
Terkait teknis penerapannya, Allan menyatakan bahwa orang tua tidak perlu melakukan pencatatan secara matematis terhadap setiap perilaku anak.
"Orang tua tidak perlu mencatat secara detail," ungkap Allan.
Ia mengingatkan adanya kecenderungan alami otak manusia yang lebih cepat merespons masalah emosional negatif.
"Sebaliknya, tujuannya adalah untuk lebih memperhatikan kualitas perhatian orang tua kepada anak-anak mereka. Karena secara alami otak manusia cenderung lebih cepat menyadari ancaman atau masalah daripada peristiwa positif. Karena secara alami otak manusia mudah menangkap hal-hal negatif atau masalah dibandingkan hal-hal positif, orang tua perlu melatih kesadaran diri agar interaksi positif tidak kalah oleh momen koreksi," lanjutnya.
Interaksi positif yang konsisten juga terbukti meminimalkan tindakan agresif anak dalam mencari perhatian orang tua.
"Hubungan yang kuat dan penuh perhatian juga mengurangi kebutuhan anak-anak untuk bertindak agresif demi mendapatkan perhatian. Ketika perhatian diberikan secara bebas dan konsisten, perilaku cenderung tidak akan meningkat menjadi upaya untuk diperhatikan," katanya.
Sementara itu, pendiri Mommy Groove Therapy & Parent Coaching, Olivia Bergeron menekankan pentingnya faktor kepercayaan dalam kepatuhan anak.
"Hubungan kita adalah pengungkit terbaik kita dengan anak-anak," kata Bergeron.
Menurut Bergeron, rasa saling percaya menghilangkan sekat pertentangan antara kedua belah pihak.
"Jika orang tua dan anak-anak memiliki hubungan yang kuat dan terhubung, anak-anak kita jauh lebih mungkin mengikuti arahan kita. Mereka belajar untuk mempercayai kita. Kita tidak berada di pihak yang berlawanan. Ini membuat pengasuhan jauh lebih mudah dengan membatasi perebutan kekuasaan dan konflik," tuturnya.
Bergeron menilai keefektifan prinsip ini dapat menjangkau seluruh tingkatan usia anak mulai dari balita hingga remaja.
"Balita belajar bahwa kasih sayang orang tua mereka tidak bergantung pada perilaku, melainkan konstan. Anak-anak usia sekolah belajar bahwa nilai mereka tidak bergantung pada prestasi atau kemampuan mereka, tetapi pada siapa mereka sebagai teman dan anggota keluarga," kata Bergeron.
Pola komunikasi ini juga menjaga pengaruh orang tua tetap kuat di masa remaja.
"Selain itu, remaja belajar bahwa meskipun mereka bereksperimen dan pengaruh teman sebaya semakin kuat, orang tua mereka berada di pihak mereka, sehingga dampaknya tetap kuat," sambungnya.
Sebagai catatan tambahan, bentuk apresiasi harus disesuaikan dengan perkembangan usia anak agar penyampaian pesan berjalan optimal.
"Anak-anak kecil mungkin merespons dengan baik terhadap pujian yang antusias dan terang-terangan," kata Allan.
Allan menyarankan pendekatan yang berbeda untuk anak yang usianya sudah lebih dewasa.
"Sementara remaja sering kali lebih menyukai pengakuan yang halus dan tulus atas usaha atau kompetensi mereka. Prinsipnya tetap sama, tetapi cara kita mengungkapkannya harus berkembang agar sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka," tambahnya.