IHSG Meroket 4,12 Persen ke Level 6.254 pada 15 Juni 2026

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan dengan performa impresif di zona hijau. Dikutip dari Bloomberg Technoz, indeks melesat sebesar 4,12 persen dan parkir di posisi 6.254 pada Senin (15/6/2026).

Sepanjang hari perdagangan, indeks acuan pasar modal Indonesia ini bahkan sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.345 pada siang hari. Lonjakan performa ini menempatkan posisi bursa domestik di jajaran elite Asia.

Aktivitas perdagangan mencatat volume transaksi yang menyentuh angka 54,61 miliar saham. Nilai jual-beli secara keseluruhan mencapai Rp30,14 triliun dengan frekuensi transaksi yang terjadi sebanyak 3,25 juta kali.

Kenaikan ini didominasi oleh 603 saham yang mencatatkan penguatan terbaiknya. Sementara itu, terdapat 125 saham yang mengalami penurunan, dan 90 saham lainnya bergerak stagnan tidak mengalami perubahan harga.

Penguatan signifikan ini membawa bursa saham domestik menjadi yang teratas sekaligus menduduki juara keempat di kawasan Asia. Performa ini mengungguli mayoritas bursa regional lainnya yang juga bergerak di zona optimistis.

Tercatat PSEi (Filipina) menguat 6,14 persen, KOSPI (Korea Selatan) naik 5,2 persen, dan NIKKEI 225 (Jepang) bertambah 4,99 persen. Kemudian Shenzhen Comp. (China) melesat 3,42 persen, disusul Topix (Jepang) sebesar 3,03 persen.

Bursa TW Weighted Index (Taiwan) juga terangkat 2,78 persen, CSI 300 (China) 2,39 persen, serta Shanghai Composite (China) 1,61 persen. Straits Times (Singapura) naik 1,02 persen dan SENSEX (India) bertambah 0,98 persen.

Selanjutnya, Hang Seng (Hong Kong) terangkat 0,5 persen, KOSDAQ (Korea Selatan) 0,48 persen, KLCI (Malaysia) 0,46 persen, dan Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) menguat sebesar 0,43 persen.

Sektor barang baku menjadi motor penggerak utama dengan lonjakan mencapai 7,26 persen. Sektor keuangan mengekor di belakangnya dengan kenaikan 5,24 persen, dan sektor perindustrian tumbuh impresif sebesar 4,51 persen.

Deretan saham unggulan dalam indeks LQ45 turut memberikan dorongan besar. Saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melompat hingga 13,3 persen, diikuti saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang naik 12,1 persen.

Tidak ketinggalan, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) juga mencatatkan kenaikan yang signifikan. Emiten berkode HRTA tersebut berhasil melonjak sebesar 11,2 persen pada akhir perdagangan hari ini.

Sentimen Global Perdamaian AS-Iran

Laju positif pasar modal sepanjang hari ini dipicu oleh kabar damai dari kancah global. Amerika Serikat (AS) dan Iran secara resmi sepakat untuk menyudahi konflik bersenjata yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Melalui unggahannya di media sosial, Presiden AS Donald Trump menyatakan “Kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah rampung,” tulis Trump dalam sebuah unggahan pribadinya, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

Pernyataan tersebut dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi. Delegasi resmi dari kedua belah pihak kini sedang bersiap untuk melangsungkan pertemuan formal di Swiss pada Jumat (19/6/2026).

Pertemuan diplomatik ini dijadwalkan setelah kedua negara merampungkan draf Nota Kesepahaman (MoU) perdamaian. Gharibabadi memastikan bahwa seluruh poin penting dari posisi strategis Iran telah diakomodasi dalam dokumen tersebut.

Naskah lengkap dari dokumen perjanjian damai ini akan segera dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat. Pengumuman rilis draf dilakukan sesaat setelah prosesi upacara resmi di Swiss rampung dilaksanakan.

Dampak Finansial dan Makroekonomi

Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa lonjakan indeks dipicu oleh kepastian penandatanganan kesepakatan damai di Swiss. Sentimen ini memberikan angin segar karena berpotensi membuka kembali jalur pelayaran strategis global.

“Optimisme akan kesepakatan damai dan dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, mendorong koreksi harga minyak lebih dari 4% hingga level US$80/barel (WTI) dan US$83/barel (Brent),” papar Phintraco dalam catatan terbarunya, Senin.

Turunnya harga minyak mentah dunia menjadi katalis positif bagi perekonomian domestik. Kondisi ini dinilai mampu meredakan tekanan inflasi serta menekan potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pasar finansial kian bergairah setelah mata uang rupiah ditutup menguat sebesar 0,94 persen ke posisi Rp17.703 per dolar AS. Penguatan nilai tukar ini menjadi stimulus tambahan bagi pergerakan modal di bursa saham.

Berdasarkan data Panin Sekuritas, apresiasi rupiah berlanjut pasca kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 75 bps sejak Mei 2026. Langkah ini memperkuat stabilitas makroekonomi dalam jangka pendek.

Di sisi lain, harga komoditas emas bergerak naik hingga berada di atas level US$4.338 per troy oz. Tren ini terjadi seiring melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Bank Sentral AS atau The Fed akibat meredanya inflasi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author