BPI Danantara Klarifikasi Sorotan Laporan Keuangan dari Lembaga Pemeringkat
Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani memberikan klarifikasi mengenai sorotan yang diberikan oleh lembaga pemeringkat global terhadap laporan keuangan lembaganya. Dikutip dari Bloombergtechnoz, proses penyusunan laporan keuangan tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus mengintegrasikan data dari seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
“Ini kan kita mengkonsolidasikan seribu perusahaan lebih,” kata Rosan di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Rosan menjelaskan bahwa pihak BPI Danantara telah menyerahkan seluruh data performa keuangan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selaku auditor resmi dana investasi negara. Selain itu, keterbukaan informasi keuangan juga telah dilakukan kepada para investor domestik maupun internasional saat agenda kunjungan kerja.
“Pada saat kita melakukan road show kan juga ada data-data kita kasih tahu mereka, mereka juga enggak mungkin investasi tanpa melihat keuangan kita,” tuturnya.
Sebelum adanya tanggapan ini, Moody's Ratings memberikan peringkat kredit Baa2 untuk PT Danantara Investment Management (DIM) yang berada di bawah naungan BPI Danantara. Institusi pemeringkat dunia tersebut menyertakan outlook negatif untuk keseluruhan peringkat yang dirilis.
Moody's juga menetapkan peringkat provisional (P)Baa2 bagi program global medium-term note (MTN) tanpa jaminan milik DIM. Peringkat Baa2 turut diberikan pada obligasi senior unsecured yang rencananya akan diluncurkan oleh perusahaan.
"Peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk Danantara Investment Management sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia karena didukung hubungan kredit yang kuat," kata Wakil Presiden dan Analis Senior Moody's Ratings Rachel Chua dalam laporannya, Rabu (3/6/2026).
Di sisi lain, S&P Global Ratings merilis peringkat kredit penerbit jangka panjang ‘BBB’ serta peringkat jangka pendek ‘A-2’ untuk PT Danantara Investment Management (DIM). Lembaga ini menyematkan outlook stabil yang nilainya mengikuti peringkat kredit sovereign Indonesia.
“Kami dapat menurunkan peringkat DIM apabila kami mengambil tindakan serupa terhadap peringkat sovereign Indonesia,” tulis S&P dalam laporannya, Rabu (3/6/2026).
Capaian Penerbitan Obligasi Global
PT Danantara Investment Management (DIM) baru saja mengeksekusi penerbitan obligasi internasional perdana dengan nilai total US$1,5 miliar atau berkisar Rp26,7 triliun. Langkah korporasi ini berjalan di tengah ketidakpastian situasi ekonomi dunia, tensi geopolitik, serta naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Pihak manajemen mengonfirmasi bahwa instrumen utang tersebut mendapatkan respons yang sangat positif dari para pemodal global. Total pemesanan atau peak orderbook menyentuh angka US$4,6 miliar, jumlah yang merepresentasikan lebih dari tiga kali lipat dari target emisi.
"Kepercayaan yang diberikan pasar internasional ini juga diharapkan dapat memperkuat keyakinan investor domestik dan masyarakat luas terhadap kekuatan kerangka institusional Danantara Indonesia," tulis manajemen Danantara dalam siaran press pada Jumat (12/6/2026).
Surat utang global tersebut dilepas dalam dua seri dengan nominal masing-masing sebesar US$750 juta. Seri pertama mengusung tenor lima tahun dengan tingkat imbal hasil sebesar 5,35%, sedangkan seri kedua memiliki tenor 10 tahun dengan tingkat imbal hasil mencapai 5,95%.
Manajemen menerangkan bahwa kedua seri obligasi berhasil dipatok dengan spread yang ketat di atas kurva obligasi negara Republik Indonesia. Batas spread untuk jangka waktu lima tahun berada pada posisi 32 basis poin, sementara untuk jangka waktu 10 tahun berada pada angka 34 basis poin di atas kurva sekunder.
Penyebaran investor untuk tenor lima tahun didominasi oleh pelaku pasar dari wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika sebesar 41%, diikuti Amerika Serikat sebesar 38%, dan Asia sebanyak 21%. Untuk obligasi dengan tenor 10 tahun, porsi terbesar dimiliki investor Amerika Serikat sebesar 52%, disusul kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika 31%, serta investor Asia sebesar 17%.