Saham BBRI Melonjak 5,61 Persen Pasca Pengumuman Rencana Buyback
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan lonjakan harga yang signifikan pada perdagangan Senin (15/6/2026). Performa positif ini sekaligus mengubah akumulasi pergerakan saham emiten perbankan tersebut untuk periode mingguan dan bulanan.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, saham BBRI mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61% dan parkir di level Rp3.010 per lembar. Berkat apresiasi ini, persentase penurunan harga saham BBRI dalam sebulan terakhir kini menyusut menjadi 3,53%.
Aktivitas perdagangan dalam jangka waktu satu minggu ke belakang memperlihatkan performa yang tidak kalah impresif. Saham BBRI tercatat mengalami kenaikan sebesar 9,85%.
Pada pembukaan pasar awal pekan ini, saham BBRI mengawali transaksi di posisi Rp2.890. Sepanjang hari, pergerakannya berada dalam rentang harga harian terendah Rp2.890 hingga mencapai titik tertinggi di level Rp3.050.
Hingga pukul 14.30 WIB, aktivitas transaksi saham BBRI terpantau sangat aktif dengan nilai mencapai Rp1,47 triliun. Adapun total volume saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 495,25 juta lembar saham melalui frekuensi transaksi sebanyak 72.533 kali.
Aksi beli yang masif terhadap saham BBRI ini bergulir pasca perseroan resmi mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback. Kebijakan korporasi tersebut diambil di tengah kondisi pasar yang sedang berfluktuasi secara signifikan, dengan nilai maksimal mencapai Rp500 miliar.
Manajemen sengaja mengeksekusi langkah strategis ini demi mendongkrak nilai bagi para pemegang saham. Di samping itu, agenda ini menjadi cerminan dari rasa optimisme pihak manajemen terhadap prospek bisnis jangka panjang perusahaan.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa keputusan buyback tersebut didasarkan pada penilaian manajemen bahwa harga saham BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya.
Faktor valuasi yang tercermin di pasar modal sekarang dinilai belum sepenuhnya memperlihatkan kekuatan fundamental yang riil. Kondisi tersebut juga dianggap belum menggambarkan potensi pertumbuhan bisnis masa depan yang dimiliki oleh BRI.
“Kami menilai valuasi BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau belum sepenuhnya merefleksikan kinerja dan potensi bisnis perseroan,” imbuh Dhanny.
Program buyback saham dalam kondisi fluktuatif ini dijadwalkan berlangsung mulai 12 Juni 2026 hingga 11 September 2026.
Melalui kebijakan korporasi ini, emiten berharap mampu mengirimkan sinyal positif kepada para investor. Langkah ini menjadi bukti keyakinan manajemen bahwa kinerja operasional dan keuangan perusahaan tetap kokoh di tengah dinamisnya pasar global.