Pasar Padurenan Baru Bekasi Terbengkalai dan Menjadi Tempat Pembuangan Sampah

Share

Kawasan Pasar Padurenan Baru di Kota Bekasi terpantau dalam kondisi mengenaskan akibat ditinggal oleh pedagang serta pembeli pada Senin (15/6/2026). Area belanja yang kini terbengkalai tersebut bahkan beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar, seperti dilansir dari Detik Finance.

Kemunduran aktivitas ekonomi di fasilitas publik ini telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Banyak lapak dagangan yang kini kosong dan mulai runtuh karena tidak lagi dirawat oleh para pemiliknya.

"Dulu ramai, sisi sana (area yang sekarang kosong dan menjadi tempat sampah) itu dulunya tempat sayur, daging, gitu-gitu lah. Pasar basah lah kita bilangnya," ujar Dani, pedagang kebutuhan rumah tangga.

Penurunan jumlah pengunjung dipicu oleh ketatnya persaingan dengan pusat perbelanjaan lain di sekitar lokasi, seperti Pasar Bantar Gebang. Menurut para pedagang, situasi sepi ini sudah mulai dirasakan masyarakat bahkan sebelum merebaknya pandemi COVID-19 pada 2020 lalu.

"Kayanya orang pada pilih belanja di Pasar Bantar Gebang. Dari sini naik motor paling 10-15 menit lah. Mungkin di sana lebih lengkap, kalau di sini kan makin lama makin sedikit penjualnya," ujarnya Dani, pedagang kebutuhan rumah tangga.

Kondisi pasar yang semakin tidak lengkap membuat pembeli enggan datang, yang kemudian memicu lebih banyak pedagang gulung tikar. Saat ini, para pedagang yang masih bertahan hanya mengandalkan kunjungan dari para pelanggan setia mereka.

"Kalau yang sana (area pasar yang jadi tempat sampah) sudah kosong lama. Kan tiap tahun yang dagang makin dikit, makin pada mepet (pindah lokasi lapak) ke sini semua. Jadi di sana sudah kosong lumayan lama, makanya banyak yang sudah rubuh kan," terang Dani, pedagang kebutuhan rumah tangga.

Tumpukan sampah yang menghasilkan bau menyengat juga memperparah kenyamanan di area pasar. Kondisi sepi biasanya terjadi sejak menjelang siang hingga sore hari.

"(Tumpukan sampah) pasti mengganggu. Sekarang pembeli hampir semua langganan sih, kalau pembeli harian gitu jarang banget yang datang. Rata-rata mereka juga datang pagi doang, kalau siang ke sore sepi banget memang pasar ini, benar-benar cuma nunggu kalau ada langganan datang saja," sambung Dani, pedagang kebutuhan rumah tangga.

Sebagian besar pedagang yang memilih bertahan merupakan pelaku usaha lama yang sudah beroperasi sejak pasar ini pertama kali didirikan pada 2005. Mereka enggan pindah karena kekhawatiran kesulitan mencari basis konsumen baru.

"Ini yang masih bertahan bisa dibilang 'tim inti'-nya sih. Memang rata-rata ini pedagang yang masih di sini orang lama semua. Jadi mungkin sudah punya langganan masing-masing," kata Dani, pedagang kebutuhan rumah tangga.

Penurunan pendapatan secara drastis juga dirasakan oleh pedagang lain di dalam pasar. Kemerosotan omzet dilaporkan terjadi secara signifikan dalam periode dua hingga tiga tahun ke belakang.

"Dulu ramai, cuma tiap tahun itu orang turun terus. Tapi yang paling terasa itu dua tiga tahun ke belakang itu jatuh banget. Banyak yang nggak bertahan juga akhirnya," papar Sumardi, pedagang.

Ketidakpastian masa depan pasar juga dipengaruhi oleh status kepemilikan tanah yang dikabarkan telah berpindah tangan. Sempat ada instruksi pengosongan lahan pada Desember 2025, namun batas waktu tersebut kemudian diperpanjang tanpa kejelasan lebih lanjut.

"Kalau misalnya ini mau direnovasi jadi bangunan lain, ya sudah, mau gimana lagi? Memang kondisi pasar seperti ini. Soalnya ini tanah pasar sudah ada pemilik barunya kan. Kemarin dia bilang Desember (2025) sudah harus kosong, tapi tiba-tiba diperpanjang sampai sekarang belum ada kepastian. Mungkin dia bingung juga mau diapakan ini," terang Sumardi, pedagang.

Faktor lain seperti menjamurnya toko daring serta keberadaan warung dan minimarket di sekitar pemukiman turut mempersempit pangsa pasar pedagang konvensional. Kondisi ini membuat beberapa pemilik kios memilih pasrah sembari menunggu usaha mereka berhenti beroperasi.

"Namanya juga pedagang, kan kita sudah punya konsumen masing-masing. Kalau pindah kan kita musti cari konsumen baru, iya kalau dapat. Toh sekarang kan memang sudah terlalu banyak pedagang. Apa-apa sudah online, di dekat sini juga banyak warung sama minimarket," tutur Sumardi, pedagang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author