Harga Emas Dunia Melonjak 15 Juni 2026 Imbas Rencana Damai AS dan Iran

Share

Harga emas di pasar spot dunia mengalami lonjakan tajam pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Jika tren penguatan ini bertahan hingga penutupan, logam mulia akan mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut.

Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Senin (15/6/2026) pukul 06:38 WIB, harga komoditas ini berada di level US$ 4.284,4 per troy ons. Nilai tersebut memperlihatkan lonjakan sebesar 1,5% dibandingkan posisi penutupan pada akhir pekan lalu.

Sebelumnya, pergerakan positif sudah terjadi selama dua hari perdagangan berturut-turut dengan akumulasi kenaikan mencapai 3,69%.

Sentimen utama yang menggerakkan pasar adalah rencana penandatanganan kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kedua negara dikabarkan bakal menyepakati pembukaan kembali rute pelayaran di Selat Hormuz di sela-sela agenda pertemuan G7 minggu ini.

Konferensi G7 sendiri dijadwalkan berlangsung di Evian, Prancis, pada 15 hingga 17 Juni. Sementara itu, penandatanganan dokumen perjanjian tersebut kemungkinan besar dilaksanakan di Jenewa, Swiss.

Seorang pejabat G7 mengindikasikan adanya sinyal positif dari pihak Iran mengenai kesepakatan ini. Untuk melangsungkan proses tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance dan Utusan Khusus Steve Wifkoff ditunjuk untuk mewakili Presiden Donald Trump.

Perjanjian damai sementara ini mencakup perpanjangan masa gencatan senjata selama dua bulan serta kelanjutan negosiasi program nuklir Iran. Selain pembukaan Jalur Selat Hormuz, AS juga berkomitmen mencabut blokade pada sejumlah pelabuhan Iran.

Kabar pemulihan hubungan diplomatik ini langsung memicu penurunan tajam pada komoditas energi. Harga minyak mentah jenis brent merosot hingga 4,15% ke level US$ 83,7 per barel pada pukul 06:55 WIB.

Penurunan harga minyak memberikan angin segar bagi pengendalian laju inflasi global. Kondisi ini membuat bank sentral di berbagai negara memiliki kelonggaran untuk tidak menaikkan suku bunga acuan mereka.

Sebab, emas tergolong sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding asset). Daya tarik investasi pada instrumen ini cenderung melemah ketika era suku bunga tinggi berlangsung.

Meskipun sedang mengalami lonjakan, analisis teknikal harian menunjukkan posisi emas masih berada dalam area bearish. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari saat ini berada di angka 41, atau masih di bawah batas netral 50.

Kendati demikian, indikator Stochastic RSI 14 hari tercatat sudah menyentuh level 80 yang menandakan pasar berada di batas jenuh beli atau oversold.

Melihat kombinasi indikator tersebut, pergerakan harga berpotensi menguji titik resisten terdekat di angka US$ 4.297 per troy ons yang memayungi Moving Average (MA) 10. Jika area ini tertembus, target berikutnya berada di kisaran US$ 4.330 per troy ons dengan batas proyeksi paling optimistis di US$ 4.384 per troy ons.

Sebaliknya, jika terjadi pembalikan arah atau koreksi, level US$ 4.271 per troy ons akan bertindak sebagai area support terdekat. Kegagalan mempertahankan posisi di titik ini berisiko menekan harga lebih dalam menuju rentang US$ 4.259 hingga US$ 4.241 per troy ons, dengan batas support psikologis paling bawah di kisaran US$ 4.101 per troy ons.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author