Ancaman Cuaca Panas Ekstrem Membayangi Gelaran Piala Dunia 2026

Share

Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 kini menghadapi tantangan serius akibat ancaman cuaca panas ekstrem. Kondisi ini tidak hanya berisiko mengganggu performa para pemain di lapangan, tetapi juga mengancam kesehatan suporter yang hadir di stadion.

Seperti dilansir dari Detik Health, World Weather Attribution (WWA) memprediksi bahwa dari total 104 pertandingan yang dijadwalkan, sebanyak 26 laga diperkirakan berlangsung dalam kondisi indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) mencapai minimal 26 derajat Celsius. Bahkan, lima pertandingan di antaranya diproyeksikan menyentuh suhu yang lebih ekstrem, yakni 28 derajat Celsius atau lebih.

Merujuk pada data National Weather Service, indeks WBGT merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat heat stress atau tekanan panas pada tubuh manusia ketika terpapar sinar matahari langsung. Indeks tersebut dihitung dengan mengombinasikan temperatur udara, tingkat kelembaban, hingga intensitas radiasi matahari.

Dampak dari lonjakan suhu ini dinilai sangat signifikan terhadap aktivitas fisik di lapangan. Media New York Times mewartakan bahwa cuaca panas ekstrem berpotensi memicu lonjakan suhu tubuh pemain secara tidak terkendali, yang pada tingkat berbahaya dapat menyebabkan kondisi heat stroke.

Pengaruh meteorologis ini juga dikonfirmasi oleh Mike Tipton, seorang profesor fisiologi manusia dari University of Portsmouth, yang menjelaskan bahwa intensitas permainan sepak bola cenderung menurun drastis saat menghadapi tekanan panas.

"Contoh, frekuensi sprint menurun, pemain berlari lebih pendek, dan laga lebih mungkin berakhir dengan adu penalti," kata Prof Tipton.

Kondisi penurunan performa ini turut diperkuat oleh analisis Everton Fox, pakar meteorologi senior sekaligus presenter cuaca Al Jazeera. Ia menyatakan bahwa kombinasi kelembaban tinggi, paparan radiasi, serta kecepatan angin sangat memengaruhi kapasitas fisik atlet.

"Semua itu membuat tubuh lebih sulit mendinginkan diri karena keringat susah menguap," katanya.

Secara medis, mekanisme pertahanan tubuh manusia di tengah suhu tinggi mengandalkan sistem pengaturan internal. Raiyan Abbasi, seorang pelatih fisik yang pernah berpengalaman di klub Swansea dan West Ham, menjelaskan bahwa produksi keringat berfungsi untuk mengaktifkan proses termoregulasi demi menjaga stabilitas suhu inti tubuh.

Kendati demikian, Abbasi mengingatkan bahwa produksi keringat yang keluar secara berlebihan akibat cuaca ekstrem dapat memicu gangguan fisik lain seperti dehidrasi, kram otot, hingga kelelahan akut.

"Ya, mayoritas atlet tahu caranya menghadapi panas seperti ini karena mereka adalah pemain elit yang berlatih dan berkompetisi dalam berbagai kondisi," katanya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author