Iran Sebut Proposal Perdamaian Amerika Serikat Jembatani Perbedaan

Share

Pemerintah Iran menyatakan proposal perdamaian terbaru dari Amerika Serikat (AS) berhasil menjembatani sebagian celah perbedaan untuk mengubah gencatan senjata menjadi kesepakatan permanen pada Kamis (21/5/2026), dilansir dari Bloombergtechnoz.

Kantor berita semi-resmi Iranian Students' News Agency (ISNA) melaporkan bahwa Teheran sedang merumuskan jawaban resmi terhadap draf tersebut demi mempersempit perbedaan yang ada.

Penyelarasan lebih lanjut membutuhkan dihentikannya ambisi perang dari pihak Washington, tulis agensi berita ISNA dalam laporannya.

Kementerian Luar Negeri Iran menjelaskan pertukaran pesan mengacu pada draf 14 poin yang mencakup pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan blokade pelabuhan sebelum negosiasi nuklir lanjutan.

Pihak Teheran juga menuntut komitmen penghentian pertempuran di semua front termasuk Lebanon, serta pencairan aset-aset yang dibekukan akibat sanksi ekonomi.

Di sisi lain, mediator utama yakni Marsekal Lapangan Asim Munir selaku figur paling berpengaruh di Pakistan dijadwalkan mengunjungi Teheran untuk menembus kebuntuan diplomasi.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negaranya berada dalam tahap akhir diplomasi, yang langsung memicu lonjakan harga obligasi pemerintah AS dan penurunan harga minyak Brent sebesar 0,4 persen menjadi US$104,70 per barel.

Namun, pihak Washington tetap memberikan ancaman akan melanjutkan serangan militer jika syarat mengenai penghentian pengayaan nuklir dan penyerahan cadangan uranium tidak dipenuhi Iran.

"Kami akan mencapai kesepakatan atau kami akan melakukan beberapa hal yang sedikit tidak menyenangkan," kata Trump.

Ia menambahkan pernyataan bernada peringatan tersebut di hadapan para wartawan dengan harapan situasi buruk itu tidak benar-benar terjadi.

"Tapi mudah-mudahan itu tidak terjadi," kata Trump.

Merespons tekanan terkait batas pengayaan nuklir tersebut, pihak pemerintah Iran menegaskan posisi mereka untuk tidak tunduk pada tuntutan sepihak pihak Barat.

"Memaksa Iran menyerah melalui tekanan hanyalah ilusi," tulis Pezeshkian, Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Ketegangan juga meluas ke wilayah Lebanon akibat pertempuran antara Israel yang didukung AS melawan kelompok Hizbullah, di mana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan meragukan komitmen damai Teheran.

Sementara itu, militer Iran mengancam akan meluaskan skala pembalasan ke luar kawasan Timur Tengah jika agresi bersenjata kembali dilanjutkan oleh pihak lawan.

"Jika agresi terhadap Iran kembali terjadi, perang regional yang sebelumnya dijanjikan kali ini akan meluas melampaui kawasan," kata Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Pihak pasukan elit tersebut menegaskan kesiapan mereka dalam mengambil keputusan strategis di tengah situasi konflik yang terus memanas.

IRGC berjanji akan memberikan "serangan telak di tempat-tempat yang tidak Anda duga," kata Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author