Dokter Gunakan Botox untuk Selamatkan Janin Gastroschisis Kompleks dalam Kandungan

Share

Prosedur medis tidak biasa dilakukan oleh tim dokter untuk menyelamatkan nyawa janin di dalam kandungan. Seperti dilansir dari HaiBunda, zat Botox yang biasanya populer untuk perawatan kecantikan kini diaplikasikan guna menangani kasus gastroschisis kompleks.

Intervensi ini diterapkan pada bayi perempuan bernama Noel Price yang terdiagnosa mengalami penyempitan lubang dinding perut saat masih di dalam rahim. Tim medis memanfaatkan Botox untuk membuat dinding perut yang tegang menjadi lebih kendur.

Langkah penanganan tersebut berhasil menjaga organ tubuh Noel sehingga ia bisa terus berkembang hingga lahir ke dunia. Noel kini sudah menginjak usia hampir 10 bulan dan memperlihatkan proses pemulihan yang sangat baik setelah melewati tindakan operasi.

"Dia mungkin salah satu orang termuda di dunia yang menggunakan Botox," canda ibunya, Casey Price, dilansir People.

Permasalahan pada kehamilan Casey mulai terdeteksi lewat pemeriksaan USG yang menunjukkan hasil tidak normal pada 8 April 2025 ketika usia kandungan menginjak 17 minggu. Petugas medis mengonfirmasi adanya indikasi gangguan pertumbuhan pada janin tersebut.

Riwayat kehamilan Casey sebelumnya juga diwarnai duka akibat kehilangan salah satu anak kembarnya yang meninggal sebelum sempat dilahirkan. Setelah itu, Casey bersama suaminya, Jonathan, menjalani pemeriksaan lanjutan dengan ahli fetal maternal di Texas Children's Hospital pada 16 April 2025.

Hasil pemeriksaan kedokteran memastikan sang buah hati mengidap gastroschisis kompleks yang memicu munculnya lubang pada area dinding perut. Kondisi ini membuat organ usus janin keluar dari rongga perut dan terpapar cairan ketuban secara langsung.

"Gastroskisis kompleks 'lebih berbahaya bagi bayi'," kata ahli bedah janin dan pakar fetal maternal di Texas Children's North Austin, Dr. Cara Buskmiller.

"Dengan kondisi ini, lubang di perut menjadi sempit, yang dapat menyebabkan kerusakan pada usus dan membuat bayi sangat sakit saat lahir. Gastroskisis kompleks dikaitkan dengan risiko kematian 10 hingga 15 persen dan risiko 10 persen mengalami masalah seumur hidup yang disebut sindrom usus pendek," sambungnya.

Ukuran tubuh janin yang sangat kecil sempat memicu kekhawatiran tim dokter mengenai adanya potensi komplikasi kelainan genetik fatal lainnya. Kondisi lubang dinding perut yang semakin menyempit juga terus menekan organ dalam bayi hingga memicu pembengkakan.

"Sepertinya kabar yang kami terima semakin buruk. Kami ingin melakukan semua yang kami bisa untuk memperjuangkan hidupnya, agar dia bisa hidup bersama kami. Kami bertekad untuk melakukan apa pun yang diperlukan," ungkap Jonathan.

Dr. Cara Buskmiller beserta tim awalnya sempat mempertimbangkan opsi persalinan prematur demi menyelamatkan organ usus bayi. Namun, mereka akhirnya memilih opsi alternatif berupa penyuntikan Botox, sebuah prosedur langka yang baru diterapkan beberapa kali di dunia.

Fungsi Botox dalam kasus ini adalah memperlebar lubang dinding perut yang menyempit serta menghilangkan sumbatan. Hal tersebut bertujuan agar aliran darah ke usus bayi tetap lancar sehingga janin mempunyai waktu lebih lama untuk tumbuh di dalam rahim.

"Saya pikir mungkin saya bisa memecahkan masalah ini dan memberi lebih banyak waktu bagi bayi untuk tumbuh," ungkap Buskmiller.

Prosedur penyuntikan dilakukan saat usia kehamilan memasuki 25 minggu dengan kesiapan penuh untuk tindakan operasi caesar darurat jika terjadi komplikasi. Evaluasi medis pada minggu berikutnya menunjukkan hasil positif berupa perbaikan kondisi pada janin.

"Minggu berikutnya kami datang dan dokter mulai melihat peningkatan. Botox memiliki efek yang memang membantunya. Kami sangat gembira dan sangat bahagia," ujar Casey.

Keberhasilan suntikan Botox tersebut membuat janin mampu bertahan aman di dalam kandungan selama sembilan minggu berikutnya. Noel akhirnya dilahirkan melalui operasi caesar pada 4 Agustus dalam usia kandungan prematur dengan berat 1,5 kilogram.

Pascapersalinan, tim dokter langsung mengosongkan cairan ketuban dari usus Noel dan melakukan operasi pengembalian organ perut lima hari kemudian. Bayi perempuan ini menjalani perawatan intensif selama 81 hari di ruang NICU sebelum diizinkan pulang.

Saat ini Noel tumbuh sehat tanpa memerlukan tindakan operasi tambahan lagi dalam perkembangannya. Fungsi pencernaannya membaik sehingga ia tidak lagi bergantung pada selang makan dan sudah bisa mengonsumsi makanan padat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author