Ilmuwan Ungkap Sejarah Probiotik dan Dilema Penambahan Gula
Probiotik kini identik dengan yogurt atau minuman susu fermentasi yang mendukung kesehatan pencernaan. Namun, rekam jejak mikroorganisme hidup ini memiliki sejarah panjang sebelum masuk ke dalam tren industri fungsional.
Manusia telah memanfaatkan fermentasi untuk mengawetkan makanan sejak 7.000 hingga 10.000 tahun lalu, seperti dilansir dari Detik Health. Penggembala di Asia Tengah dan Timur Tengah tanpa sengaja memicu pertumbuhan mikroorganisme alami saat menyimpan susu di kantong kulit hewan.
Penelitian ilmiah terkait manfaat mikroorganisme ini baru berkembang pada awal abad ke-20. Ilya Ilyich Mechnikov, ilmuwan di Pasteur Institute, mengamati tingginya harapan hidup penduduk pedesaan Bulgaria yang rutin mengonsumsi susu fermentasi.
Mechnikov mempopulerkan gagasan tersebut melalui buku berjudul The Prolongation of Life pada tahun 1907. Ia berteori bahwa bakteri penghasil asam laktat mampu menekan mikroorganisme berbahaya di dalam usus manusia.
Lahirnya Istilah dan Era Komersialisasi
Istilah probiotik sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti mendukung kehidupan. Kata ini pertama kali diperkenalkan dalam literatur ilmiah oleh Lilly dan Stillwell pada tahun 1965.
Komersialisasi produk dimulai pada tahun 1935 saat ilmuwan Jepang, Minoru Shirota, berhasil mengisolasi Lactobacillus casei Shirota. Bakteri asam laktat ini terbukti mampu bertahan hidup di dalam saluran pencernaan manusia.
Dilema Kadar Gula di Era Modern
Sains modern membuktikan mikrobiota usus ikut memengaruhi sistem imun, metabolisme, hingga komunikasi antara usus dan otak. Kendati demikian, industri modern kerap menambahkan gula pasca-fermentasi untuk memperbaiki cita rasa produk yang asam.
"Ada produk minuman susu fermentasi yang mendapat penambahan gula pasca proses fermentasi untuk menyeimbangkan rasa asam yang dihasilkan," kata Guru Besar Mikrobiologi Universitas Indonesia, Prof Dra Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc, PhD.
Zat pemanis tambahan ini memicu kekhawatiran baru karena meningkatkan risiko gangguan kesehatan kronis. Prevalensi kasus diabetes saat ini bahkan mulai bergeser dan banyak menyasar kelompok usia yang lebih muda.
"Meningkatkan risiko sih. Kita ada penelitiannya, konsumsi minuman-minuman manis itu meningkatkan risiko diabetes," kata konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes, dr Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD.