Tinggi dan Berat Badan Orang Tua Pengaruhi Pertumbuhan Janin Sejak dalam Kandungan
Faktor genetik dari orang tua memiliki keterkaitan erat dengan proses pertumbuhan bayi sejak di dalam kandungan. Dikutip dari HaiBunda, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa tinggi dan berat badan orang tua berhubungan dengan berat serta panjang badan anak sejak masa kehamilan hingga fase kehidupan berikutnya.
Studi ini dilakukan oleh Hirabai Cowasji Jehangir Medical Research Institute di Pune, India, melalui proyek bernama Mother and Infant Study (MAI). Riset tersebut memantau perkembangan perempuan dari awal masa kehamilan hingga periode setelah melahirkan.
Sebagian penelitian berlangsung di wilayah pedesaan yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Pune. Wilayah tersebut dipilih karena memiliki tingkat prevalensi kekurangan gizi yang tergolong tinggi.
Riset ini melibatkan sebanyak 134 triad yang terdiri dari ibu, ayah, dan anak. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 kilogram berat badan ibu selama masa kehamilan akan meningkatkan berat bayi di dalam kandungan sebesar 21 gram.
Selain berat badan, tinggi badan orang tua juga memengaruhi ukuran tubuh bayi saat dilahirkan. Tinggi badan ibu didapati berpengaruh pada panjang badan bayi laki-laki, sementara tinggi badan ayah berkaitan dengan panjang badan bayi perempuan.
Wakil Direktur Hirabai Cowasji Jehangir Medical Research Institute, Dr. Anuradha Khadilkar, menegaskan pentingnya faktor eksternal ini bagi kesehatan anak.
p>"Status gizi orang tua berdampak pada kesehatan anak," ujar Khadilkar, dikutip dari Times of India.
Pengaruh fisik dari pihak ayah dilaporkan baru mulai terdeteksi setelah usia kehamilan memasuki trimester ketiga.
Khadilkar menjelaskan bahwa dampak kondisi fisik ayah terhadap pertumbuhan janin teridentifikasi setelah usia kehamilan melewati 28 minggu.
"Dengan setiap penambahan 1 cm pada ukuran tinggi badan ayah, berat bayi dalam kandungan meningkat sebesar 19 gram," katanya menambahkan.
Secara umum, bayi yang lahir dari ayah dengan tubuh lebih tinggi memiliki kecenderungan berat badan yang lebih besar. Kendati demikian, hubungan ini tidak bersifat mutlak karena perkembangan janin tetap dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, status gizi, serta kondisi kesehatan kedua orang tua.
"Dengan demikian, ayah yang lebih bergizi akan memiliki bayi yang lebih sehat," katanya.
Melalui temuan tersebut, para peneliti mengingatkan bahwa hasil studi ini bukan berarti orang tua yang memiliki berat badan berlebih akan otomatis melahirkan bayi yang lebih sehat.
"Kami tidak menyarankan bahwa orang tua yang kelebihan berat badan atau obesitas akan memiliki bayi yang lebih sehat," tambah Khadilkar.
Kecukupan pemenuhan nutrisi selama masa kehamilan menjadi pilar krusial selain faktor genetik dalam mendukung perkembangan janin. Bayi dari ibu yang mengalami kenaikan berat badan ideal cenderung memiliki kondisi kesehatan yang lebih optimal.
“Jika para ibu mendapatkan nutrisi yang cukup pada dan setelah usia kehamilan enam bulan, kesehatan bayi mereka akan jauh lebih baik. Studi ini menggarisbawahi perlunya intervensi sebelum kehamilan dan selama kehamilan untuk memastikan penambahan berat badan yang optimal (tidak terlalu sedikit, dan tidak terlalu banyak),” kata Khadilkar.
Sebaliknya, masalah kekurangan gizi pada ibu berisiko menimbulkan dampak negatif yang dapat berlanjut hingga antar generasi berikutnya.
"Jika seorang ibu tidak cukup gizi, ia seringkali akan melahirkan bayi dengan kesehatan yang buruk. Anak ini kemungkinan besar akan membesarkan anak yang juga kemungkinan besar tidak cukup gizi," kata Khadilkar.